Review Product: Biokos Derma Bright

Tag

Kira-kira sebulan yang lalu saya dinas di Kabupaten Aceh Singkil selama dua minggu. Dua minggu yang membawa derita. Air hotel yang kuning tidak layak untuk digunakan mandi. Plus ditambah lagi dengan kepergian kami mengunjungi Pulau Banyak di hari ketiga menjelang pulang. Meskipun sudah menggunakan atribut lengkap mulai dari masker sampai sarung tangan, berada seharian di bawah matahari Samudera Hindia tetap membuat kulit kami gosong terbakar. Tidak kuat rasanya mendengar komentar orang-orang kantor mengenai wajah saya yang semakin melegam. Hiks.. Hiks.. Asam sitrat dari jeruk nipis yang selama ini saya andalkan tidak cukup ampuh mengobati gosong yang saya alami.

-read more->

Iklan

Dewasa

Menikmati setiap fase hidup. Satu-satunya hal yang saat ini ada di pikiran saya. Karena hanya dengan itu kita masih bisa bersyukur atas nikmat serta bersabar atas ujian. Nikmati saja. Kalau kata orang bijak, hidup ini bukanlah tentang penantian menunggu badai lewat. Namun hidup ini adalah pelajaran untuk menari bersama badai. Menikmati badai.

-more->

Air Keruh

Lagi nggak pingin main peribahasa. Judul tulisan ini bukan berbicara tentang ‘memancing di air keruh’ atau ‘air keruh, sungai dibelah’. Tapi saya lagi sebel sama air di rumah baru yang warnanya kuning. Nasib tinggal di pesisir. Ternyata jaringan PDAM belum masuk pula ke perdesaan saya ini. Desa Lampineung, Baitussalam, Aceh Besar.

Sudah hampir sebulan saya pindah ke rumah ini. Rumah bantuan BRR untuk para korban tsunami. Saya bukan korban tsunami. Tapi saya korban kepelitan seorang warga negara Aceh yang lupa adatnya sendiri ‘pemulia jamee adat geutanyo’. Dalam tempo sesingkat-singkatnya sepulang dari Kabupaten Aceh Singkil setelah bertugas hampir sebulan di sana, saya segera packing dan pindah ke rumah baru ini. Bertemankan bebek dan sapi-sapi milik tetangga yang suka sekali buang ranjau di depan rumah. Hiks hiks.

-read more->

Belajar dari Alay

Judul terjahat yang pernah gue bikin. Karena alay yang gue maksud di sini adalah kakak perempuan gue sendiri. Hahaha. Beda umur kami cuma dua tahun. Selisih umur yang dekat itu bukannya membuat gue kompak malah semakin membuat gue sama dia banyak nggak akurnya. Teman sepermainan gue di rumah adalah teman dia juga. Tapi ya itu, tetep banyak berantemnya daripada kompaknya. Saling iri-irian, apalagi karena status gue sebagai anak paling kecil yang pasti bakalan dibela kalo setiap berantem. Hahaha 😀

-more->

Cinta itu Sederhana, Orangnya Aja yang Ribet..

Salah strategi, niat hati mau olahraga malam, terlanjur minum suplemen, tapi nggak jadi olahraga, hasilnya mata masih on sampe jam setengah dua pagi gini. Menimbang saran dari seorang teman untuk mempublish tulisan baru, akhirnya saya buka lagi layar laptop yang belum saya shutdown semenjak dua hari yang lalu untuk sekadar melatih kelenturan jari.

Tadi pagi saya menemukan syair berikut ini di beranda facebook yang diupload menjadi status oleh seorang teman.

Cinta Itu Sederhana (sumber: @hitmansystem)

Cinta itu sederhana. Orangnya aja yang ribet. Udah tau doi nggak mau, masih aja ngotot.

Cinta itu sederhana. Orangnya aja yang ribet. Udah tahu pacar orang, eh diladenin, terus diseriusin.

Cinta itu sederhana. Orangnya aja yang ribet. Bisa bahagia dengan yang baik, tapi ngotot menderita bersama yang buruk.

Cinta itu sederhana. Orangnya aja yang ribet. Udah tahu cuma dianggap teman, tapi masih berharap lebih.

Cinta itu sederhana. Orangnya aja yang ribet. Pengen dapet cewek, nongkrongnya sama cowok.

Cinta itu sederhana. Orangnya aja yang ribet. Dia yang naksir, tapi ngotot nunggu gebetan gerak duluan. Kenal aja nggak.

Cinta itu sederhana. Orangnya aja yang ribet. Udah ditolak berkali-kali, masih nyari tanda naksir.

 

-click for more->

Pancong apa Pukis, sih?

Sesuatu yang ditunda keterlaksanaannya oleh Allah, semestinya membuat kita menjadi lebih bersabar. Sehingga ketika hal itu Allah izinkan segera terjadi, maka akan membuat kita menjadi lebih bersyukur. Hehehe. Lebay. Sudah empat minggu gagal mulai gabung di kelompok liqo’ yang baru. Dua minggu pertama pas gue kebetulan lagi dinas luar kota. Dua minggu pas gue di Banda Aceh pun gagal karena murabbiyahnya sakit dan yang gagal hari ini sebabnya adalah karena mutarabbinya yang pada sibuk. Aih. Jadi dibikin deg-degan gini nunggu sebuah pertemuan. Halah.

 Padahal eh padahal. Hari ini gue udah nyoba bikin resep baru. Temen gue, sebut saja namanya Fahri, atau sebut saja nama lengkapnya, Syahadat Muhammad Fakhry, eeaaa penting banget disebut komplit, biar kalo dia nyari namanya di google, dia masuk ke blog gue (-_-). Oke lanjut, dia pernah nyebut-nyebut kata “kue pancong”. Merasa tertantang lah gue untuk bikin. Cetakan siap dibeli. Nyari resep di grup NCC, BKR, BRM, semua gue obrak-abrik. Ketemu satu resep, lupa dimana. Memang kadang orang agak keliru membedakan mana yang namanya kue pancong, mana yang namanya kue pukis. Kalo kue pancong itu dia pake tepung beras dan pake parutan kelapa. Sementara kue pukis bahan bakunya dari tepung terigu dan biasanya pake topping meses.

-klik buat lanjut->

Belajar Sabar

Okay, satu lagi kesabaran gue diuji. Lo tau kenapa? Setelah satu tahun lamanya gue bersabar-bar-bar-bar ngebersihin rumah kayak orang kerja rodi saban sabtu-minggu. Angkat-angkat galon kosong sampe dua biji ke warung. Ngepel rumah, nyikatin kamar mandi, bersihin dapur yang seinget gue terakhir gue pake udah gue bersihin sampe kinclong-long-long. Kemudian kesabaran gue serasa dicabik-cabik. Apa pasal?

Jadi ceritanya selama gue dinas borongan selama Januari sampe Februari kemarin, gue cuma pulang Sabtu-Minggu aja. Di dua minggu pertama, okelah Sabtu pagi masih gue sempetin beres-beres rumah. Namun namanya manusia, ada aja perasaan mangkel dalam hati. Dari Senin sampai Jumat toh gue nggak bikin berantakan ini rumah kan dan hari Senin pagi itu rumah udah gue tinggalkan lagi untuk kembali mengadu nasib di kota PIM, eh kota Lhokseumawe, Krueng Geukueh sih tepatnya.

-more->

Jalan Kaki

Pukul delapan malam saat azan isya bergema lima menit yang lalu. Menyusuri kegelapan, saya memilih memarkir motor di dalam rumah dan mengunci pintu. Listrik mati di sepanjang jalan. PLN masih harus bekerja keras memasok listrik di Banda Aceh rupanya. Dua minggu belakangan ini sering sekali listrik padam. Saya menghangatkan kedua tangan ke saku jaket. Berjalan pelan ke arah jalan raya menuju sebuah minimarket di seberang jalan.
-more->

Move On

Alhamdulillah, akhirnya kerjaan kantor sedikit lagi hampir selesai. Akhir pekan ini ada waktu untuk namatin film-film yang sudah terlanjur terbaring manis di hardisk eksternalku semenjak setahun yang lalu. Tumben ya bahasanya pake ‘aku-akuan’, biasanya kan pake ‘saya-saya-an’. Tau ah, lagi pengen kelihatan lebih imut aja. Hehehe.

Kemarin hari terakhir di obrik, sempet bandel sedikit, mumpung internetnya kenceng, kupake aja buat download The Conjuring sama Wolf of Wall Street di Indowebster. Tapi ngubek-ngubek subtitle-nya The Conjuring satupun nggak ada yang pas. Videonya kayaknya yang salah timing di menit-menit awal. Hiks hiks. Akhirnya nyoba untuk muter Wolf of Wall Streetnya Leonardo dulu, lima belas menit pertama langsung bosen. Akhirnya sepanjang Sabtu pagi kemarin cuma bengong mandangin laptop sambil muter lagu-lagu Air Supply berulang-ulang.

-more->