Nah, perjalanan kali ini saya nggak ditemenin sama Nyi, karena Nyi harus kerja. Tapi sama temen kampus, nama disamarkan, sebut saja Juni. Sehari setelah UAS terakhir seharusnya saya masih merevisi paper mata kuliah Manajemen Keuangan Pemerintah, tapi setelah semalaman begadang dan inspirasi yang didapat cuma segitu-gitunya, ya sudahlah sent aja teros😀 Sudah tak sabar pingin jalan-jalan ke Jogja.

Paginya, sekitar jam sepuluh saya jemput si Juni di kosannya di Kalimongso untuk berangkat ke Stasiun Senen. Kami berangkat berdua naik motor. Pukul 12 siang, sesampainya di stasiun, kami langsung membagi tugas. Juni langsung masuk ke stasiun untuk mengeprint tiket sementara saya bertugas mencari parkiran motor. Malam sebelumnya saya sudah mencari informasi via internet mengenai lokasi parkir menginap di sekitar Stasiun Senen. Terdapat beberapa lokasi parkir yang dapat digunakan untuk menginap, di antaranya adalah di Masjid seberang stasiun dan di pinggir jalan raya di depan GOR. Namun tak disangka, di satu jam sebelum keberangkatan ini, ternyata kedua parkiran tersebut penuh dan sudah tidak mau menampung motor lagi. Ada beberapa orang juga yang bernasib sama seperti saya, padahal keretanya sudah hendak berangkat.

Si petugas parkir yang kasihan, lalu memberi tahu saya bahwa di belakang halte di sebelah kanan stasiun juga ada parkiran. Segeralah saya meluncur kesana. Awalnya petugas disana -lebih tepatnya preman disana- menolak untuk memarkirkan motor saya karena tempat sudah penuh, tetapi setelah saya agak mengiba-iba sedikit, motor saya diizinkan untuk ditinggal dan akan diparkirkan apabila sudah ada motor yang keluar. Yasudah, bismillah saja, daripada ketinggalan kereta.

Ternyata, untuk naik kereta, sekarang ada sistem check in dimana petugas akan mencocokkan antara identitas penumpang dengan tiket yang dibeli. Semoga mengurangi praktek percaloan deh. Sambil menunggu kereta yang akan mengantarkan kami ke Klaten tiba, kami solat dulu di Masjid di Stasiun Senen. Kamar Mandinya bersih dan wangi. Mushollanya meskipun kecil tapi bersih. Suatu kemajuan buat PT KAI.

Kami memang berencana mampir dulu ke Klaten sebelum akhirnya menuju Jogja untuk menghadiri pernikahan seorang teman. Kami menaiki kereta ekonomi AC Jaka Tingkir dengan harga tiket sebesar 275ribu. Perjalanan yang dijadwalkan berangkat pukul satu siang dan tiba pukul delapan malam ternyata harus molor hingga tiba pukul sebelas malam di Klaten meskipun jadwal berangkatnya tepat waktu.

Kami hanya menginap semalam di rumah seorang kawan di Klaten. Pukul 2 siang usai menghadiri resepsi, kami segera meluncur ke Jogja menggunakan Prameks. Harga tiketnya cukup 12ribu per orang. Saya lupa berapa waktu tempuh dari Klaten ke Jogja, tapi tidak lama kok mungkin sejam atau bahkan kurang. Kemudian kami turun di stasiun tugu dan berjalan kaki menuju Malioboro mencari minimarket untuk membeli ransum😀

Tanpa beristirahat lebih lama kami menawar becak untuk mengantar kami ke Penginapan Pugeran di Jalan MT Haryono. Tepat di sebelah Penginapan Pugeran ada penginapan lainnya namun kami tidak sempat melihat-lihat karena sudah terlanjur membooking di Penginapan Pugeran. Kami diberikan kamar yang menggunakan AC karena kamar yang Non-AC sudah penuh. Kamar AC harganya seratus ribu semalam sementara yang menggunakan kipas angin, harganya hanya 75 ribu semalam.

Dengan harga seratus ribu rasanya memang tidak bisa meminta lebih. Di kamar terdapat kasur berukuran King Size dengan kondisi seprai yang sepertinya jarang diganti. Sementara itu lantai terasa berdebu dengan kamar mandi yang licin, dan wc yang tanpa dudukan, sehingga ketika buang air langsung menyentuh bagian keramik wc-nya. Ah, semoga betah.

Kami juga menyewa motor kepada pemilik penginapan, kami mendapatkan motor Honda Beat dengan harga 50rb untuk sewa selama 24 jam. Dengan sepeda motor itu kami telah membuat rencana untuk mengunjungi Pantai Indrayanti di Gunung Kidul, hmm…

Hari Pertama

Karena hari ini kami ingin melepaskan lelah dan pusing di perjalanan dari senen yang belum hilang, maka kami memutuskan untuk beristirahat di kamar. Kami keluar kamar setelah sholat Maghrib untuk berjalan-jalan ke alun-alun Utara. Suasananya lumayan ramai, ada beberapa warung tenda yang menjajakan makanan. Namun kami lebih tertarik untuk menaiki sepeda hias berbentuk mobil hahaha…

Jalan yang sempit dikarenakan banyak kendaraan yang parkir di pinggir jalan terlebih lagi harus berbagi jalur dengan kendaraan lainnya membuat mengayuh sepeda hias ini butuh kesabaran ekstra. Buktinya si Juni sukses ngedumel sepanjang gowes karena saya tidak membantu gowes melainkan sibuk ngebelok2in sepeda karen takut ngegores mobil yang sedang parkir :))😀

Setelah satu kali putaran naik sepeda yang mahal sekali itu, 25ribu rupiah. Keringat pun mengucur deras. Kami kemudian berjalan menuju dua pohon beringin besar. Kami menyewa secarik kain untuk menutup mata seharga dua ribu rupiah, meskipun  sebenarnya kami bisa memakai kain sendiri, tapi tak apalah hitung-hitung membantu warga lokal.

Padahal saya sudah hampir berhasil tuh untuk masuk di antara dua beringin, namun karena tiba-tiba ada hawa panas menyeruak di depan saya dan membuat saya sewot, saya pun segera membuka kain penutup mata saya. Di depan saya sudah gelap dengan tanah yang becek berlumpur. Saya urungkan niat untuk kembali maju. Namun ketika percobaan kedua, saya malah  melenceng jauh dari target😀

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Angkringan Lik Man untuk minum Kopi Jos. Kopi yang dicampurkan arang kayu yang membara. Namun sayang kopinya terlalu manis sehingga tidak saya habiskan. Maaf ya nggak ada pic, karena pic nya ada di hape saya yang hilang di parang tritis keesokan harinya :((

Hari Kedua

Di hari kedua ini, kami berangkat pukul delapan pagi untuk mengunjungi Candi Borobudur di daerah Magelang. Selama trip ini aplikasi Waze sangat membantu kami menemukan lokasi wisata-wisata yang hendak kami kunjungi. Di tengah jalan kami hanya sarapan roti yang dibeli di minimarket.

Sekitar pukul sepuluh kami sampai di Candi Borobudur. Harga tiket masuknya untuk wisatawan lokal sebesar 30ribu rupiah per orangnya. Tak lupa juga kami membeli topi untuk melindungi diri dari sengatan matahari. Karena tidak terlalu pintar menawar, kami dikenai harga 60ribu untuk dua topi, sementara samar-samar kami dengar pembeli berikutnya diberi harga 50ribu untuk dua topi.. Hiks :((

Di dekat pintu masuk terdapat ruang multimedia yang memutarkan film dokumenter sepanjang 15 menit mengenai Candi Borobudur. Satu orang tiketnya seharga 5ribu rupiah. Tetapi, film baru dapat diputar apabila jumlah penonton mencapai lima orang. Karena kami tidak yakin akan ada penonton selain kami, maka kami berdua membeli lima tiket sekaligus. Wahahaha horang kayaaahhh…

Sebelum naik ke atas Candi, kami terjaring RAZIA SARUNGISASI! Jadi setiap orang yang hendak memasuki kawasan candi harus memakai kain yang diikatkan di pinggang. Kain ini disediakan gratis oleh pihak pengelola candi.

DSC00068

si juni…

Candi Borobudur terdiri dari dua juta batu yang tersusun menjadi sepuluh tingkat. Banyak patung yang sudah tidak memiliki kepala. Kepala yang hilang ini ada yang disebabkan oleh gempa bumi yang melanda daerah sekitar candi ataupun dicuri orang. Pencuri hanya mencuri bagian kepalanya saja dikarenakan patung batu tersebut sangatlah berat sehingga hanya bisa mengambil bagian kepalanya.

Pengunjung pun tidak diperbolehkan untuk memanjat candi untuk duduk maupun berfoto karena tumpukan batu candi tidak direkatkan menggunakan semen dan usianya yang sudah tua membuat batu-batu tersebut mudah rapuh. Jika ada yang terlihat memanjat maka petugas akan segera memberi tahu lewat toa sehingga di dengar oleh seluruh pengunjung hehehe…

DSC00090

Setelah puas muter-muter dan sotoy-sotoyan menafsirkan relief hahhaha, kami pun turun dari candi. Sayang sekali kurang terdapat daerah teduh di sekitar candi untuk beristirahat, sehingga kami pun bergegas keluar menghindari terik matahari dari kawasan candi dan mencari tempat makan. Berhubung mau ngirit, maka kita cuma makan bakso di depan pintu masuk. Yaah lumayann alhamdulillah…

Pukul 3 sore kami kembali ke penginapan. Setelah mandi, solat dan istirahat sebentar di penginapan, pukul lima sore kami bersiap-siap untuk mengunjungi pantai parang tritis.

Pantai Parang Tritis yang berlokasi di Bantul berjarak sekitar 11 KM dari Pugeran dapat ditempuh selama setengah jam naik motor. Kami membayar tiket masuk sebesar 9500 per orang di pintu gerbang.

Meskipun pasirnya hitam dan kurang menarik namun saya akui Pantai Parang Tritis memiliki sunset yang indah. Juni mencoba untuk naik kuda seharga 30ribu, sementara saya nggak mau naik kuda karena geli sama bulu kuda. Jadi saya makan somay saja sama sekoteng😀

Petaka bermula disini ketika saya sedang memfoto sunset. Karena tas yang tidak terkunci, hape saya yang baru dibeli dua bulan jatuh dan hilang. Suasana pun mendadak menjadi tegang dan kami memutuskan untuk pergi ke Jogjatronik Mall untuk mencari hape baru buat saya. Karena kami butuh Waze untuk pergi ke Pantai Indrayanti besok. Duh, mau irit kok malah tekor gini ya. Kurang sedekah kayaknya. Padahal sudah terlanjur cinta loh sama Hape Nokia X2 saya, terpaksa dengan uang yang tersisa saya beli Asus Zenfone 4 deh.

DSC00111

Hari Ketiga

Setelah melalui hari yang panjang kemarin, di hari ketiga kami bersiap-siap semenjak pagi untuk berangkat ke Kabupaten Gunung Kidul. Waze di HP baru pun telah saya pasang untuk memandu kami menuju Pantai Indrayanti. Saya mengeset jalan dengan rute tercepat. Waze pun  memberikan arah untuk melewati Jalan Panggang untuk kemudian masuk ke wilayah Gunung Kidul.

Perjalanan sejauh 60 km kami tempuh dalam waktu sekitar 2 jam saja. Jalan yang kami lalui dipenuhi tanjakan dan turunan terjal di mana di tepi sebelah kirinya berupa jurang sementara di sebelah kanan berupa hutan. Jarang sekali terlihat rumah penduduk. Yang saya takutkan adalah apabila ban motor kami bocor dan kami harus mendorong motor melewati tanjakan. Apalagi nanti kalo sampe ada begal. Hati dag-dig-dug :((

Memasuki Wilayah Gunung Kidul akhirnya jalan yang kami tempuh mulai manusiawi, kami mampir dulu di Alfamart untuk membeli bekal dan sarapan.

Sesampainya di kawasan pantai, aroma laut menyambut kami. Hamparan laut biru yang mengingatkan kenangan masa-masa hidup di Aceh membuat saya bergidik merinding. Kami memesan dua butir kelapa untuk meredakan kehausan. Sebutirnya 15ribu. Mahal juga ya. Untung saya nggak jadi jajan yang lain selain kelapa di warung situ.

Kemudian datang seorang nenek yang menjual srikaya, seplastik ukuran sedang hanya seharga 10rb. Nyam ini dia makanan kesukaan saya. Mending makan buah daripada makan mie instan kan😀

Setelah menghabiskan jajanan, kami pun menyusuri pantai menuju bukit yang terletak di sebelah kiri pantai. Untuk naik ke bukit kecil tersebut masyarakat sekitar memungut pungli kepada pengunjung.

Dari atas bukit kita bisa melihat hamparan laut yang lebih luas. Sementara itu di bawah bukit ini banyak orang yang berlindung di bawah batu untuk melindungi diri dari sengatan matahari.

Pantai Indrayanti hanya satu dari sekian banyak pantai di kawasan ini. Mengingat garis pantai yang panjang. Pantai-pantai yang kami sempat kunjungi di antaranya Pantai Sundak, Krakal, dan Baron.

Tapi yang jadi favorit saya ialah pantai Krakal. Suasananya masih sepi dan pengunjungnya lebih sedikit dibandingkan dengan pantai Indrayanti, sehingga saya merasa lebih rileks. Di pantai Krakal juga terdapat saung-saung yang dibangun oleh Pemkab Gunung Kidul dan dapat digunakan oleh pengunjung untuk beristirahat.

DSC00156 DSC00170 DSC00186DSC00150

Huaaa pokoknya indah deh,  pengen kesana lagi. Jadi kepikiran kalo misalnya kangen sama Aceh tapi ke Aceh mahal, yaudah ke Indrayanti aja hehe..

Karena takut kemalaman sekitar pukul 4 kamin pun cuss pulang kembali ke penginapan. Alhamdulillah kali ini kami lewat jalan yang benar, yaitu lewat Jalan Raya  Wonosari-Jogja.

Sesampainya di penginapan, kami segera bersih-bersih, solat Maghrib dan kemudian cuss lagi ke Malioboro hehe… Oh iya, pengalaman kami makan di Lesehan di jalan Malioboro kurang begitu menyenangkan ya. Kebetulan dapet warung yang makanannya agak kurang enak dan harganya mihil. Jadi sedih deh😦

Hari Keempat

Hari terakhir di Jogja sebelum nanti sore pulang ke Jakarta, pagi harinya kami sempatkan mampir di PASTY, Pasar Satwa dan Tanaman Yogyakarta. Saya beli kaktus karena nggak tau mau beli apa. Si Juni beli bunga yang entah namanya apa hehe… Habis itu kita sempetin mampir beli bakpia di daerah deket keraton lupa nama jalannya apa tapi ada toko bakpia 25 sama 75 yang gede itu…

Habis itu ke lempuyangan deh dianter bapak becak goes, kasihan loh bapaknya. Sama si Juni dikasih 50rb. Hmmm….

nggak ada pic buat hari terakhir😀