Kehidupan ini tidak pernah dijanjikan untuk dapat dijalani dengan mudah. Mohon maaf sebelumnya, beberapa bulan vakum menulis, tiba-tiba hadir dengan suasana sendu. Tiga bulan ini tercatat sebagai masa-masa terberat dalam sejarah perjalanan hidup saya. Lebay.

Setelah berjuang mengikuti ujian masuk program diploma IV STAN bulan Oktober lalu, ternyata saya ditakdirkan untuk lulus. Artinya, saya harus mengemas kembali barang-barang yang baru saja saya tata sebulan yang lalu setelah pindah dari Aceh Besar ke Rumah Dinas BPKP di Punge, Banda Aceh. Saya harus kembali ke Jakarta. Menjalani sisa takdir hidup di tanah kelahiran.

Dahulu saya berpikir bahwa kembali ke tanah kelahiran adalah momen yang paling saya tunggu semenjak pertama kali menjejakkan kaki di Bumi Rencong. Namun sekarang semua telah berubah. Kehidupan saya yang telah berubah. Bagaimana mungkin melupakan tanah yang di setiap sudutnya telah menumbuhkan semangat hidup dan harapan baru bagi saya? Perpisahan itu amat terasa berat dan menyakitkan. Mengetahui bahwa saya harus kembali berselisih jalan dengan orang-orang yang pernah berarti bagi hidup saya.

Kembali ke rumah, saya sadar bahwa ada tugas berat yang tuhan hendak titipkan di punggung saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Tapi saya tahu menangisi nasib sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Sepulangnya saya dari Banda Aceh saya mengetahui bahwa adik saya tidak lagi bersekolah. Adik saya sejatinya adalah anak dari adik ayah saya. Ketika di kandungan, ibunya mengonsumsi obat-obatan penggugur kandungan. Namun tuhan menakdirkan ia untuk tetap lahir. Pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi ibunya itu mengakibatkan ia lahir dengan gejala autisme. Orangtuanya tidak berkenan merawat bayi malang tersebut. Sehingga ia dirawat oleh orang tua saya. Dan jadilah saya si anak bungsu yang memiliki adik.

Usianya kini menginjak sebelas tahun. Sebelum berhenti sekolah ia telah duduk di kelas tiga sekolah dasar. Ia telah mampu membaca dan berhitung. Namun kejenuhan dan kekurangmampuan bersosialisasi dengan kawan sebayanya membuat ia tak betah bersekolah.

Saya khawatir dengan masa depannya. Bagaimana dengan hidupnya seandainya saja kami sudah tidak lagi berada di sisinya. Siapa yang akan merawatnya.

Saya sudah mencoba mengikuti beberapa komunitas anak autis. Tetapi terapi yang diperlukan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi semestinya terapi dimulai dari masa balita.

Saya hanya sedang tidak tahu kemana lagi harus berlari