Terima kasih untuk seorang kawan yang sudah tergelitik melihat terjadinya -jika tidak ingin dikatakan sebagai kemerosotan moral- kefuturan seorang muslimah sehingga membuatnya menegur dan menasihati muslimah tersebut untuk senantiasa berada di jalan kebenaran. Tulisan berikut ini semoga meneguhkan apa yang sebelumnya pernah runtuh, meluruskan apa yang sebelumnya sempat menyimpang dan menyucikan apa yang sebelumnya sempat ternoda.

Dikutip dari Majmu’ah Rasail Al-Imam Asy Syahid Hasan Al Banna

Islam melihat bahwa ikhtilath antara wanita dan laki-laki itu berbahaya. Islam memisahkan antara keduanya kecuali dengan cara menikah. Oleh karena itulah, maka masyarakat Islam adalah masyarakat tunggal bukan bersifat ganda.

Para propagandis ikhtilath mengatakan bahwa hal itu akan menyebabkan kemandulan dalam menikmati lezatnya berkumpul dan manisnya bercengkrama yang akan didapatkan oleh salah satu dari keduanya manakala berkumpul dengan yang lain. Ikhtilath juga akan mewujudkan rasa yang membuahkan aneka tata krama sosial seperti lemah lembut, baik dalam bergaul, halus dalam bertutur, santun dalam sikap, dan lain-lain. Mereka juga mengatakan, pemisahan antara dua jenis ini akan menjadikan salah seorang merindu yang lai. Namun dengan berhubungan antara keduanya (lelaki-perempuan) akan memperkecil kesempatan berpikir tentang hal itu, akan menjadikannya sebagai hal yang lumrah dalam jiwa. Karena yang paling dicintai manusia adalah apa yang dilarang baginya dan apa yang ada dalam genggaman tangan sudah tidak lagi jadi pikiran jiwa.

Demikianlah yang mereka katakan dan banyak yang terfitnah dengan kata-kata mereka itu. Apalagi hal itu merupakan pikiran yang sesuai dengan gejolak hawa nafsu dan sejalan dengan syahwat. Kita kataka kepada mereka, “Kendati kami belum sepenuhnya puas dengan apa yang kalian katakan pada statement yang pertama, kami akan katakan pada kalian apa yang diakibatkan oleh kelezatan bertemu dan kenikmatan bercengkramanya lelaki-perempuan. Akibat itu adalah hilangnya kehormatan, rusaknya jiwa dan perilaku, kehancuran rumah, kesengsaraan keluarga, rawannya kriminalitas, degradasi moral, tidak mempunyai kejantanan yang tidak hanya sekedar sampai kepada kebancian dan kelembekan. Sungguh hal ini bisa dibuktikan dan tidak akan membantah kecuali oleh orang yang sombong.”

Dampak negatif ikhtilath ini seribu kali lipat lebih banyak daripada manfaatnya. Jika bertentangan antara maslahat dan kerusakan, maka tentunya menghalau kerusakan itu lebih didahulukan. Apalagi maslahat yang didapat itu tidak sebanding dengan banyaknya kerusakan.

Sedangkan statement yang kedua, maka itu tidak benar. Justru ikhtilath itu akan menambah kecenderungan. Dulu ada yang mengatakan, “Adanya makanan itu akan menambah syahwat orang yang rakus (untuk makan).” Seorang suami hidup bersama istrinya bertahun-tahun, sudah pasti kecenderungan (untuk menggaulinya) akan bertambah dalam jiwanya. Maka bagaimana mungkin hubungan (selalu dekat) dengan sang istri tidak menjadi sebab kecenderungan kepadanya?

Sementara itu wanita yang ikhtilath akan terdorong untuk memamerkan lekuk-lekuk perhiasannya. Ia tidak rela kecuali laki-laki itu kagum kepadanya. Ini merupakan dampak ekonomis negatif yang ditimbulkan oleh ikhtilath, yakni boros dalam perhiasan, tabarruj yang mengarah pada habisnya uang, bangkrut, dan kefakiran.

Oleh karena itulah, kami berseru bahwa masyarakat Islam itu adalah masyarakat tunggal, bukan masyarakat ganda. Para lelaki punya masyarakat sendiri sebagaimana wanita punya masyarakat sendiri. Islam membolehkan bagi wanita untuk mengikuti shalat ‘Ied, shalat jamaah, dan keluar untuk berperang dalam situasi yang darurat. Namun Islam hanya sampai batas ketentuan ini (tidak merambah pada yang lain) dengan menentukan berbagai macam persyaratan seperti: menjauhi tabarruj, menutup aurat, melebarkan pakaian, tidak tipis, dan tidak pula membentuk lekuk tubuh, serta tidak berkhalwat dengan lelaki yang bukan mahramnya dalam situasi dan keadaan yang bagaimanapun.

Sesungguhnya di antara dosa besar dalam Islam adalah jika ada seorang lelaki berkhalwat dengan wanita yang bukan mahramnya. Islam juga telah memberikan garis ketetapan yang keras dan pasti terhadap segala jalan menuju ikhtilath bagi kedua jenis anak manusia ini. Maka menutup aurat adalah bagian dari tata kramanya.

Pengharaman khalwat dengan lawan jenis yang bukan mahramnya adalah salah satu hukum dari sekian hukum-hukumnya.

Menundukkan pandangan adalah bagian dari kewajiban-kewajibannya.

Menetap di rumah bagi seoran wanita sampai ketika shalat merupakan syi’ar dari sekian banyak sy’iar-syi’arnya.

Menjauhi rangsangan, baik suara maupun gerak dengan segala macam fenomena berhias, -khususnya ketika keluar rumah- adalah salah satu dari sekian banak garis ketetapannya.

Semua itu disyariatkan agar kaum lelaki selamat dari fitnah wanita, karena fitnah ini adalah fitnah yang paling mudah hinggap dalam dirinya. Juga agar kaum wanita selamat dari fitnah laki-laki karena fitnah itu adalah fitnah yang paling mudah mendekati hatinya. Ayat-ayat mulia dan hadits-hadits suci telah menuturkan hal itu:

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”