Laisal fata man yaqulu kana abi,
walakinal fata man yaqulu ha ana dza
Bukanlah pemuda yang berkata, “Ini Bapakku”
Tapi pemuda ialah yang mengatakan, “Inilah aku !” -Ali RA

Adakalanya aku cemburu. Iri. Ketika melihat anak-anak yang bahkan semenjak di dalam rahim sudah mendapatkan tarbiyah dari kedua orang tuanya. Adakalanya aku cemburu. Merasa ditidakadili. Ketika melihat anak-anak yang bahkan semenjak di dalam rahim telah direncanakan pendidikannya dengan ditopang perekonomian keluarga yang mapan.
Mungkin harus seperti Salman Al Farisi, terseok mencari kebenaran seorang diri hingga Islam memenangkan hatinya. Bukan seperti Ali yang semenjak kecil tumbuh bersama madrasah kenabian.
Ahad pagi di awal tahun 2009, aku cemburu. Menyaksikan sekumpulan anak tengah bermuraja’ah di Masjid Al Hikmah, Jalan Bangka V, Mampang Perapatan. Bahagianya mereka, cahaya Islam telah masuk ke dalam rumah tangga orang tuanya. Dididik dengan baik dan layak di sekolah berlabel Islam Terpadu dengan harga yang lumayan menguras kantong dibanding sekolah umum biasa.

Menuju ke lantai dua masjid tersebut. Ruangan telah penuh dengan para orang dewasa, ikhwan dan akhowat, laki-laki dan perempuan. Sementara anak-anak sekecil itu sudah tahfizh, para orang dewasa yang berkumpul termasuk diriku, sebagian besar baru akan memulai program tahsin, membenarkan bacaan Al Quran.
Andai saja aku lahir dari keluarga yang mengerti agama. Pasti aku sudah menjadi hafizhah seperti anak-anak kecil itu. Andai saja aku lahir dari keluarga kaya. Pasti aku tidak perlu pontang-panting mengajar demi mendapatkan uang saku bahkan untuk membayar spp tahsinku.
Sapaan ringan dari beberapa peserta akhowat yang baru hadir membangunkanku dari lamunan.
Seorang pria muda berkopiah masuk dan duduk menghadap ke jamaah. Beliau Ustaz Muzammil MF Al Hafizh Lc. Mudir Al Hikmah. Ketika berumur lima belas tahun beliau sudah hafizh tiga puluh juz.
Pengantar yang beliau sampaikan kuperhatikan betul. Seolah membaca lamunanku, di akhir pidatonya, Ustaz Muzammil membuat air mataku tumpah.
“Jikalau kita tidak seberuntung adik-adik kita yang pada usia dini sudah dikenalkan agama. Jikalau kita tidak seberuntung adik-adik kita yang orang tuanya telah paham agama. Maka inilah tugas kita untuk memutus rantai tersebut dari keluarga kita. Jadilah generasi pertama di keluarga kita yang mengenalkan anak-anak kita kelak dengan agama. Jadilah orang tua yang paham agama yang kelak mendidik anak-anaknya dengan nilai agama.”
Ya Allah. Bukankah sebetulnya ladang pahalaku terbuka luas. Begitu banyak jalan bagiku untuk ber-birrul walidain. Begitu banyak jalanku untuk berbakti kepada orang tuaku. Bukan tempatnya jika aku menyalahkan orang tuaku yang tidak mendidikku dengan agama yang shahih. Bukan tempatnya jika aku menyalahkan orang tuaku yang tidak bisa memberikan kepastian pendidikan dengan kemampuan ekonomi yang mapan.
Bukankah dengan itu, justru begitu banyak hal yang dapat kulakukan untuk membahagiakan kedua orang tuaku?
Segala yang bisa kucapai dan belum pernah orang tuaku capai, bukankah itu artinya aku kepanjangan tangan cita-cita mereka?
Jika orang tuaku bukanlah hafizh yang bisa menularkan kepada anak-anaknya. Mengapa tidak aku yang menjadi hafizh dan bersiap memakaikan mahkota untuk kedua orangtuaku kelak di akhirat?
Jika orang tuaku bukanlah seorang yang kaya raya yang bisa memberikan warisan kepada anak-anaknya. Mengapa tidak aku yang menjadi penjamin kebahagiaan mereka kelak di masa tua?
Ya Rabbi. Izinkan aku menjadi pemutus rantai di keluargaku.