Menikmati setiap fase hidup. Satu-satunya hal yang saat ini ada di pikiran saya. Karena hanya dengan itu kita masih bisa bersyukur atas nikmat serta bersabar atas ujian. Nikmati saja. Kalau kata orang bijak, hidup ini bukanlah tentang penantian menunggu badai lewat. Namun hidup ini adalah pelajaran untuk menari bersama badai. Menikmati badai.

Sewaktu masih duduk di bangku sekolah. Bukankah ini yang kita rindukan? Masuk ke universitas favorit. Setelah kuliah? Lulus kerja? Menikah? Punya anak? Dan kemudian mati? Kita selalu merindukan –jika tak ingin disebut sebagai merisaukan– hal-hal keduniawian yang masih ghaib. Masih jomblo risau pengen nikah. Udah nikah risau pengen cepet punya anak. 

Beberapa waktu belakangan ini saya mencoba untuk berhenti sejenak. Berhenti dari merisaukan segala permasalahan hidup. Berjalan lebih lambat. Bersuara lebih pelan. Mencoba memperhatikan lebih banyak. Belajar untuk bersabar dan menari bersama badai. Karena saya yakin, segala kesakitan ini suatu saat akan berguna bagi saya. 

Belajar untuk tak tergesa-gesa. Belajar untuk menimbang sebelum memutuskan. Mencoba membuktikan saya bukan seorang yang impulsif meledak-ledak. Mencoba menarik nafas panjang dan lebih memilih menyendiri meneteskan air mata daripada mengumpat-umpat. 

Perjalanan panjang menuju kedewasaan yang saya risaukan semenjak masih kanak-kanak. Begini rasanya menjadi seseorang yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Saya ibu rumah tangga, meskipun masih tanpa suami dan anak-anak. Terima kasih tuhan, atas fase hidup yang Kau perkenankan aku melaluinya saat ini. Terima Kasih.