Lagi nggak pingin main peribahasa. Judul tulisan ini bukan berbicara tentang ‘memancing di air keruh’ atau ‘air keruh, sungai dibelah’. Tapi saya lagi sebel sama air di rumah baru yang warnanya kuning. Nasib tinggal di pesisir. Ternyata jaringan PDAM belum masuk pula ke perdesaan saya ini. Desa Lampineung, Baitussalam, Aceh Besar.

Sudah hampir sebulan saya pindah ke rumah ini. Rumah bantuan BRR untuk para korban tsunami. Saya bukan korban tsunami. Tapi saya korban kepelitan seorang warga negara Aceh yang lupa adatnya sendiri ‘pemulia jamee adat geutanyo’. Dalam tempo sesingkat-singkatnya sepulang dari Kabupaten Aceh Singkil setelah bertugas hampir sebulan di sana, saya segera packing dan pindah ke rumah baru ini. Bertemankan bebek dan sapi-sapi milik tetangga yang suka sekali buang ranjau di depan rumah. Hiks hiks.

Back to air keruh. Saya sudah nggak yakin mau nyuci wajah keling saya ini dengan air sumur tersebut. Menggosok gigi pun rasanya nggak tega😦 Akhirnya dua minggu pertama mau tak mau saya gunakan air tersebut untuk MCK. Dan hasilnya, wajah saya makin tambah keling serta tumbuh beberapa jerawat. Padahal sudah susah payah selama sebulan dibersihkan dengan jeruk nipis. Huaa. Mau nangis rasanya. Jadi nggak betah tinggal di Aceh. Jadi hobi ngumpat warga negara Aceh. Hiks hiks.

Tadi siang baru saja saya pergi ke Kantor PDAM Tirta Mountala Aceh Besar di Siron. Mau pake badge kantor, tapi kayaknya nggak bakal ngaruh juga deh kalo emang urusannya di pemasangan pipa. Kecuali mau lobi-lobi sama orang dalam yang biasa jadi counterpart waktu ngaudit. Tapi, nehi-nehi lah yah. Jalur normal aja. Si teknisinya kupaksa buat bikin pipa jaringan terdekat sama rumahku jadi bukan ambil dari pipa besar di seberang jalan. Biar harga pemasangan awalnya nggak terlalu mahal. Tapi belum fix sih. Semoga aja bisa. Mau banyakin doa dulu. Katanya doa orang teraniaya itu makbul, kan?