Judul terjahat yang pernah gue bikin. Karena alay yang gue maksud di sini adalah kakak perempuan gue sendiri. Hahaha. Beda umur kami cuma dua tahun. Selisih umur yang dekat itu bukannya membuat gue kompak malah semakin membuat gue sama dia banyak nggak akurnya. Teman sepermainan gue di rumah adalah teman dia juga. Tapi ya itu, tetep banyak berantemnya daripada kompaknya. Saling iri-irian, apalagi karena status gue sebagai anak paling kecil yang pasti bakalan dibela kalo setiap berantem. Hahaha😀

Jadi ceritanya, sudah tiga minggu terakhir ini gue menghabiskan hari-hari gue di pinggiran laut Kabupaten Aceh Singkil demi melaksanakan tugas negara. Kemarin sempat jalan-jalan ke Kepulauan Banyak, nanti akan gue ceritain di artikel lain ya, tapi tetap nggak bisa mengobati rasa sedih, rasa sepi serta rasa rindu yang menguasai diri gue akan peradaban di Banda Aceh. Halah.

Setiap pagi, dermaga di depan Kantor Bupati jadi saksi perjuangan fatloss gue. Eh, salah. Maksudnya perjuangan menahan rasa rindu gue setelah lari pagi sejauh enam kilometer dan kemudian ngasoh di pinggir laut. Nggak setiap hari juga sih. Libur setiap Senin-Kamis😀

Pagi itu sepulangnya gue dari lari pagi, iseng buka-buka fesbuk sambil jalan. Eh si alay yang tak lain adalah kakak gue itu mengapdet status fesbuknya. ‘Tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena Allah kecuali Allah menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik daripadanya dari arah yang tiada disangka-sangkanya.’ Sebuah atsar sahabat. Tumben dia bisa ngomong bener. Hahaha.

Mau ngelanjutin nulis nggak ada ide, nanti sore balik ke subulussalam, besok pulang ke Banda Aceh. Yippie😀