Menurut kalian, mana yang lebih besar efeknya. Taubat karena jatuh cinta atau taubat karena patah hati? Lucu ya, taubatnya nggak lillahi ta’ala. Kalau menurut saya sih, lebih besar efeknya kalau taubatnya karena patah hati. Ini bukan pengalaman loh. Hehehe.

Rasa keberharapan pada manusia, itulah yang mendoinasi ketika pertaubatan didasarkan oleh perasaan jatuh cinta kepada lawan jenis. Bisa dibayangkan kemungkinan terburuk yang terjadi ketika sang empunya rasa itu tetiba patah hati? Tidak menutup kemungkinan kekecewaan yang muncul akan menjerumuskan kembali dirinya kepada kesalahan yang pernah dia coba tinggalkan.

Hal ini tentunya juga akan membebani lawan jenis yang menjadi objek pertaubatan. Beban untuk menjaga perasaan orang yang mencintainya tersebut. Segala kebaikan yang diimajinasikan dimiliki oleh lawan jenis pujaan hati diproyeksikan mentah-mentah sehingga membuat sang empunya rasa luput mengingat bahwa pujaannya tersebut hanyalah manusia biasa. Bukan ma’shum.

Ketika tiba di satu momen di mana proyeksinya hancur berkeping-keping oleh karena satu kesalahan manusiawi sang pujaan. Sang empunya rasa merasa bak dilempar dari ketinggian. Jatuhnya amat sakit. Bahkan ia bisa lebih jatuh dari titik terendah yang pernah ia lewati. Innalillahi wa innailaihi rajiun.

Betapa berbahayanya pertaubatan oleh sebab cinta. Bukan cinta yang salah. Tapi sang empunya rasa yang salah. Bukankah khauf dan raja’ mestinya disandarkan pada tuhan semata? Siapa suruh berharap pada manusia.

Saya jadi terkenang bait senandung milik The Zikr. ….tuhan dulu pernah aku menagih simpati, kepada manusia yang alpa jua buta, lalu terhiritlah aku di lorong gelisah, luka hati yang berdarah kini jadi kian parah….
Yang indah dari lirik tersebut adalah bahwa kemudian sang empunya rasa setelah terpelanting akibat kekecewaannya mampu bangkit dan menyadari kesalahannya serta kembali beristighfar.

Ah, cinta. Patutkah ia menjadi alasan bagi kita untuk berubah. Apakah janji-janji tentang kebahagiaan abadi itu kurang begitu menggiurkan? Kebahagiaan yang tiada kesedihan setelahnya.