Pukul delapan malam saat azan isya bergema lima menit yang lalu. Menyusuri kegelapan, saya memilih memarkir motor di dalam rumah dan mengunci pintu. Listrik mati di sepanjang jalan. PLN masih harus bekerja keras memasok listrik di Banda Aceh rupanya. Dua minggu belakangan ini sering sekali listrik padam. Saya menghangatkan kedua tangan ke saku jaket. Berjalan pelan ke arah jalan raya menuju sebuah minimarket di seberang jalan.

Lorong yang gelap dengan beberapa kuburan di kanan kirinya membuat suasana malam itu semakin mencekam. Saya tidak takut lagi dengan mistis sekarang, namun tetap saja seketika kelima indera menjadi begitu sensitif dengan gerak-gerik alam di senyapnya malam. Saya menarik nafas panjang kemudian menengadahkan pandangan. Lebih baik memandangi langit Aceh yang tanpa polusi dan ditaburi bintang-bintang daripada memperhatikan kuburan di jalan yang saya lalui.

Kebiasaan baru saya semenjak menginjakkan kaki di Banda Aceh. Ya, jalan kaki. Terkadang pagi hari, terkadang malam hari. Untuk menyelesaikan urusan-urusan seperti halnya pergi ke minimarket atau untuk sekedar mencari sayur di kedai dekat rumah saya memilih untuk berjalan kaki. Lebih sehat dan hemat energi.

Setahun yang lalu saat saya belum memiliki sepeda motor, saya berjalan kaki dari rumah kos menuju kantor setiap hari. Sayangnya, orang-orang asli Banda Aceh melihat kegiatan saya tersebut sebagai sesuatu yang “amat sangat kasihan”. Sehingga tak jarang saya mendapatkan tumpangan di tengah jalan. Ada saja sepeda motor yang berhenti dan menawarkan tumpangan untuk saya. Hihihi.

Kebiasaan tersebut masih saya lakukan sampai sekarang. Ketika sedang tugas luar kota dan saya urung membawa jumping rope maupun sepatu lari. Berjalan kaki menjadi satu-satunya solusi olahraga bagi saya. Seperti kejadian ketika tugas ke Jakarta bulan lalu, saya lupa membawa jumping rope. Hotel tempat kami menginap pun tidak memiliki fasilitas fitness center. Sementara saya harus tetap berolahraga setiap pagi untuk menjaga stamina tubuh. Akhirnya, jalan kaki menjadi pilihan.

Setiap selesai solat subuh, saya langsung turun ke jalan dan berjalan kaki mengitari Blok M. Rute dimuali dari Melawai-Gandaria-Kejaksaan lalu berakhir di pasar kue subuh Blok M Square sebelum kembali ke hotel. Itu rutinitas olahraga saya selama seminggu menginap di Blok M. Sekali perjalanan pulang pergi saya ukur dengan aplikasi android kira-kira lima hingga enam kilometer. Bervariasi tergantung rute yang saya tempuh.

Saya mesti benar-benar keluar hotel setelah subuh agar tidak kesiangan. Sebab, telat sedikit saja saya keluar. Jalanan Jakarta akan telah menjadi amat sangat tidak menyenangkan. Kendaraan pasti telah ramai berlalu lalang. Sebenarnya tidak masalah, karena saya toh berjalan kaki di atas trotoar. Namun saya risih jika saya berjalan kaki diiringi dengan tatapan tajam para pengendara yang terjebak macet dan seolah-olah bertanya. Eh itu cewek lagi ngapain sih pagi-pagi pake sendal hotel muter-muter kayak orang kurang kerjaan aja -_-

Pernah pula ketika saya mengambil jalur pulang melalui trotoar di depan Blok M Plaza, saya hendak menyebrang untuk kembali ke hotel. Jalanan sudah mulai ramai dengan kendaraan roda empat. Saya kesulitan menyebrang. Saya berdiri di tepi trotoar menunggu jalanan agak sepi. Saat melihat ke arah kiri, banyak orang-orang berjejer di trotoar. Saya pikir mereka juga hendak menyebrang atau mungkin sedang menunggu angkutan umum. Lah, tapi kok mereka malah melambai-lambaikan tangan pada mobil pribadi. Lalu ada beberapa mobil pribadi berhenti dan orang yang berdiri di trotoar itu masuk ke dalam. Oalaaaaah, cepat-cepat saya menyebrang sebelum ada mobil pribadi pula yang menghampiri saya dan mengira saya adalah joki three in one -__-

 

–>