Jika wanita ditanya dan ia hanya bergeming, apakah artinya selalu ‘iya’? Tak bolehkah aku diam karena bingung? Tak bolehkah keapatisan pada masa depanku membuatku terdiam dan membiarkan takdir bergerak dengan sendirinya. Tapi bukan takdir yang berjalan dengan sendirinya, melainkan diamku yang menyiratkan aku mengambil keputusan untuk berkata tidak.

Lalu. Mengapa keputusanku harus tidak? Itulah yang masih kupikirkan. Haruskah aku meninggalkan persoalan ini atau aku menerima tawaran untuk masuk lebih jauh ke persoalan ini.

Aku hanya sedang ingin diam. Aku sedang benci dengan suaraku sendiri. Aku sedang benci dengan senyumanku. Aku sedang benci dengan suara tawaku. Aku sedang benci untuk memperhatikan dunia di sekelilingku. Aku hanya ingin diam, tak memperhatikan dan tak diperhatikan.