Kemarin siang saya diajak makan siang bersama beberapa orang teman. Kami pergi ke sebuah fast food yang menyediakan ayam goreng di sekitar Simpang Lima Kota Banda Aceh. Kami duduk di lantai dua. Tempatnya terbuka, tanpa jendela. Banyak kursi yang kosong di lantai dua. Kami memilih duduk di bangku pojok dekat tembok dan menggabungkan kursi untuk kami berenam. Saya duduk menghadap tembok. Kemudian teman saya meminta saya duduk di sebelahnya agar saya bisa melihat ke arah parkiran. Agar bisa memandang langit, katanya. Saya menurut, kemudian pindah.

Sementara teman-teman saya berbincang-bincang, saya terdiam. Entah kenapa beberapa saat belakangan ini saya sedang tidak selera melepaskan humor bahkan berbincang. Dalam diam saya mengamati sekeliling. Lalu pandangan saya tertuju pada seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan  duduk persis di seberang saya. Ia duduk sendiri. 

Saya yakin. Sebelum kami berenam mengusik kesendiriannya siang itu di restoran. Ia pasti sedang berusaha mencari kedamaian. Menyendiri di pojok dengan posisi duduk menghadap tembok. Sebuah pilihan posisi duduk yang cukup aneh untuk seseorang yang duduk seorang diri pikir saya.

Teman-teman saya masih sibuk bercengkerama. Saya pun masih sibuk memandangi sekeliling. Sambil tentu saja memperhatikan wanita yang duduk di seberang meja saya tersebut. Saya perhatikan makanan di mejanya tak tersentuh. Pandangannya kosong menatap gelas cola di hadapannya. Lalu betul saja, seketika saya lihat air matanya menetes. Kemudian dengan sigap tangannya mengusapkan tisu untuk mengelap air mata itu.

Saya yang kala itu sedang dalam kondisi sensitifitas tinggi, ingin sekali rasanya meminjamkan bahu untuknya. Agar ia punya teman untuk menangis. Saya siap mendengarkan. Saya mengerti bagaimana rasa sedihnya menangis tanpa teman. Tapi apa daya, saya saya tak mampu menghampirinya.

Kak, bersabarlah, sesungguhnya setiap ujian akan berlalu. Kuatlah. Tuhan yang akan menguatkan.