Keridhoan Allah berada pada keridhoan orang tua dan kemarahan Allah berada pada kemarahan orang tua. Kali ini saya mencoba menjadi anak manis di depan mereka. Meskipun hanya saling berbincang di ujung telepon. Setelah dua puluh dua tahun lamanya merasa paling berhak menentukan arah hidup saya sendiri.

Keridhoan Allah berada pada keridhoan orang tua dan kemarahan Allah berada pada kemarahan orang tua. Beberapa kali saya menyinggung masalah masa depan dalam obrolan tersebut. Ibu saya pun mengerti ke mana arah pembicaraan saya. Saya merasakan beratnya beliau mengucapkan nasihat-nasihat tersebut untuk saya  si anak bungsu keras kepala yang suka menuruti maunya sendiri.

Keridhoan Allah berada pada keridhoan orang tua dan kemarahan Allah berada pada kemarahan orang tua. Akhirnya saya tahu apa keinginan ibu saya. Pantas terasa berat, ikhtiar tanpa ridho orang tua. Pantas terasa terhambat, upaya tanpa restu orang tua.

Lagi-lagi mood curhat lenyap, belajar dulu ah buat ujian D IV biar emak seneng………hoaaaaaammmmmmmmmm…