Pada daur hidupnya, kupu-kupu mengalami metamorfosis. Telur kupu-kupu akan berubah menjadi ulat lalu dipingit dalam pupa dan kemudian akan keluar sebagai kupu-kupu dewasa yang cantik. Begitu pula dengan kecoak, pada daur hidupnya kecoak juga mengalami metamorfosis. Telur kecoak akan tumbuh menjadi ulat lalu berubah menjadi kecoak muda dan kemudian tumbuh sayap di badannya, maka disebutlah ia kecoak dewasa.


Metamorfosis pada kupu-kupu disebut sebagai metamorfosis sempurna. Sedangkan metamorfosis pada kecoak disebut sebagai metamorfosis tidak sempurna. Bukan karena hasil metamorfosis kupu-kupu adalah hewan yang cantik sementara hasil metamorfosis kecoak adalah hewan yang menjijikan dan hinggap di tempat yang kotor. Melainkan karena metamorfosis pada kupu-kupu menghasilkan bentuk yang berbeda antara sebelum dipingit di dalam pupa dan sesudahnya. Sedangkan kecoak muda dengan kecoak dewasa bentuknya sama. Yang membedakan hanyalah keberadaan sayap pada kecoak dewasa yang mampu membuatnya terbang kemanapun ia mau, yang tidak dimiliki oleh kecoak muda.

Aku, sang telur, yang belum menyadari telur apakah aku ini. Kemudian takdir mengubahku menjadi ulat. Lalu kini, aku, sang ulat, yang masih belum memahami ulat apakah aku ini, ulat kupu-kupu kah atau ulat kecoakah aku.

Ke-introvert-an ku, yang mungkin tidak akan dirasakan oleh teman-teman sepermainanku saat ini, membuatku dulu sangat ingin memingit diriku di dalam pupa metamorfosis. Pupa penjagaan diri. Pupa hijab. Agar kelak aku hadir kembali sebagai kupu-kupu dewasa yang indah akhlak dan pekertinya. Namun, kegamangan masa remajaku sebagai ulat, membuatku melihat pupa sebagai sesuatu yang menyesakkan. Aku terlalu cepat ingin memiliki sayap.

Aku ingin keluar dari dunia ke-introvert-anku. Aku, si pujul, yang kata orang tidak akan bersuara jika belum disenggol. Aku, si pujul, yang kata orang kalau berjalan tidak peduli kanan-kiri. Aku, si pujul, yang kuat tak berkata sepatah kata pun kepada orang di hadapanku selama berjam-jam. Aku, si pujul, yang selalu berharap memiliki jubah menghilang agar keberadaannya tak disadari orang lain.

Aku menyembunyikan sifat ketertutupanku dibalik kata shalihah. Berharap orang menganggapku shalihah, padahal aku hanyalah seorang gadis yang super pendiam, malas bicara, dan sangat pemalu. Oke, jika kamu hei pembaca adalah temanku di masa dua ribu empat belas ini, maka kamu tidak lagi sedang berhadapan dengan si pujul yang pendiam. Itu adalah aku enam tahun yang lalu.

Aku mulai belajar mengembangkan kemampuanku bersosialisasi. Dunia kampus adalah masa awal ketika aku menantang diriku sendiri. Buku-buku pelajaran tak lagi menjadi pelarian ke-introvert-anku. Kuubah motto hidupku. Jangan sampai kuliah mengganggu organisasi. Aku mulai wara-wiri di organisasi hingga kepanitiaan kampus sampai-sampai kuliahku keteteran. Setiap menjelang ujian aku lebih banyak menangis dan memohon pada ibuku untuk menemaniku belajar sistim kebut semalam.

Shalihah tidak harus pendiam pikirku. Bukankah ustadzah-ustadzah yang sering kutemui itu adalah sosok pendekar panggung yang mampu menghadapi audience? Bahkan bukankah dunia dakwah juga mengharuskan kita untuk mencari cara pintar untuk menghadapi mad’u?

Maka, aku, sang ulat, memutuskan untuk keluar dari pupa metamorfosisku. Aku segera memasang sayap di kedua bahuku untuk belajar terbang. Karena aku berpikir bahwa aku ingin segera menjadi sosok yang lebih bersahabat dan lebih ramah. Aku pun mengembangkan sayapku, aku sibuk melarikan diri dari bayang-bayang ke-introvert-anku.

Aku berhasil. Meskipun di lubuk sanubari yang paling dalam aku tetaplah tidak berubah. Aku tetap gadis pendiam dan pemalu. Namun setiap kali perasaan itu muncul, aku berusaha membunuhnya. Aku memaksa tubuhku untuk berani, untuk tak bergetar ketika rasa takut menghadapi dunia itu muncul. Aku memaksa bibirku tersenyum agar aku terbiasa menjadi gadis yang ramah. Aku memaksa lidahku agar tak kelu ketika harus menyapa orang-orang yang kujumpai.

Kupaksa tubuhku membohongi nuraniku, si pujul yang tertutup, selama enam tahun. Aku mulai terbiasa dengan kebohongan ini. Aku tidaklah seceria yang kalian lihat. Ya, akulah orang yang munafik itu. Keceriaanku hanyalah untuk menutupi rasa takutku pada dunia yang kuhadapi. Aku memaksa tubuhku untuk menjadi orang yang terbuka. Namun kini, aku berhasil. Aku berhasil. Aku berhasil membuat orang-orang disekelilingku tak lagi merasakan sifat pendiam dan pemaluku. Enam tahun perjuanganku telah membuahkan hasil. Bukankah aku harusnya bahagia? Pujul, si ulat, telah bermetamorfosis.

Tapi, satu tamparan keras kuterima telak di wajahku. Kau menyebutku kekanak-kanakkan. Kau menyebutku belum dewasa. Kau menyebutku masih bergejolak muda. Hei, bukankah aku telah bermetamorfosis? Lalu apa artinya daur hidupku selama enam tahun ini jika kau masih menyebutku seperti itu?

Awalnya, aku marah padamu. Apakah aku harus kembali ke masa enam tahun yang lalu? Saat aku menjadi makhluk yang apatis terhadap dunia selain diriku. Aku marah padamu. Sekeras ini kupaksa diriku bermetamorfosis. Kau malah memerintahkanku untuk kembali menjadi pujul si pendiam. Aku marah padamu.

Namun, dalam tangisku, tuhan mengingatkanku. Mungkin pupaku dulu, belum waktunya dibongkar. Kepompongku belumlah layak untuk mengeluarkanku menjadi kupu-kupu. Atau bahkan aku tak pernah serius membiarkan diriku diubah menjadi kupu-kupu yang cantik oleh pupa itu. Aku yang tak sabar. Aku malah membiarkan diriku menyangka bahwa aku adalah larva kecoak. Tanpa masuk ke pupa aku langsung memasang sendiri sayap agar aku disangka dewasa.

Metamorfosis yang kualami tidak sempurna. Aku bukanlah kupu-kupu. Aku hanyalah kecoak yang membuatmu ingin menggeprakku dengan sapu setiap menjumpaiku. Maafkan aku, metamorfosisku tidak sempurna. Maafkan aku, kupikir aku kupu-kupu bagimu, namun nyatanya kau melihatku sebagai kecoak. Sama saja ketika belum dewasa dan sesudah dewasanya. Masih kekanak-kanakkan.

Apa yang harus kulakukan? Ajari aku, kumohon.

–>