Banyak yang bilang saya lama kalau mandi. Saya terpaksa harus menyetujui tuduhan tersebut. Jika saya sedang senang, maka saya akan berlama-lama di dalam kamar mandi sambil asyik bersenandung. Namun, jika saya sedang galau, maka saya akan berlama-lama menyikat gigi, mengusap sabun atau menikmati guyuran air dari gayung sambil merenungi beratnya cobaan hidup yang saya lalui. Hahaha.


Beberapa hari belakangan ini, deretan botol shampo dan sikat gigi-sikat gigi yang tak lagi terpakai menjadi saksi atas dilema yang dihadirkan oleh seorang kawan setelah saya menceritakan kepadanya tentang cita-cita saya. Cita-cita yang terlalu malu untuk saya bagi dengan siapapun. Untuk seseorang berzodiak kepiting, sudah terlalu biasa bagi saya untuk menyembunyikan rencana besar dan kemudian menunjukkannya kepada orang-orang setelah rencana tersebut berhasil saya lakukan. Hari gini masih bawa-bawa masalah zodiak. Duh.

Keinginan untuk melanjutkan pendidikan dan merintis karir yang telah diangankan semenjak masa es-em-a terlalu indah untuk diganggu oleh variabel-variabel kehidupan yang belum pasti kapan datangnya. Saya hanya menggunakan asumsi ceteris paribus dalam berangan-angan. Mengabaikan berbagai faktor yang mungkin dapat merusak indahnya angan saya tersebut. Mengasumsikan semua hal akan sama, tetap, dan belum berubah.

Di tengah menggebunya saya bercerita, ia menanggapi ringan, “Terus kau nggak mau nikah, Jul?” Saya tertegun sesaat. “Ya maulah”, jawab saya galau. “Kok kuliah terus, kapan nikahnya?” Saya bukannya tidak merencanakan untuk menikah. Namun selama hal tersebut masih belum pasti kapan datangnya, saya masih enggan memasukkannya ke dalam rangkaian mimpi saya tersebut.

Nanti kalau setelah nikah ternyata suamimu nyuruh kau keluar kerja gimana, Jul?”. “Ya, jangan dinikahin” jawab saya. “Tapi ini kasusnya dia dulu bilang boleh, terus sekarang bilang nggak boleh, Jul”, aku hanya tertegun. Tak berani menjawab. Karena bagaimanapun juga suami itu pemimpin dalam rumah tangga. Sang suami pasti juga memiliki pandangan-pandangan lain demi kebaikan keluarganya. Mana mungkin merengek-rengek demi keegoisan pribadi dan menelantarkan keluarga?

Biasanya perempuan yang sukses, jarang yang keluarganya bahagia, Jul”, lanjutnya, “..malah kebanyakan single. Kalau kau kuliah keluar negeri kasihan suami dan anakmu nanti. Kalau mau nikah setelah kuliah keluar negeri, umurmu udah berapa itu, udah tua.” Begitu kurang lebih nasihatnya. Jam makan siang kali itu, saya benar-benar diingatkan untuk tidak egois mengejar cita-cita pribadi dan melupakan kodrat sebagai wanita (jika diamanahkan untuk memiliki anak nanti –aamiin-) untuk merawat dan mendidik anak.

Tidak terbayangkan betapa penuh perjuangannya ketika melihat pasangan suami istri muda yang keduanya merupakan senior di kantor saya. Saya saja yang hanya sekadar mengamati, capek sendiri. Tak terbayang jika saya juga memilih untuk tetap bekerja ketika sudah berumah tangga. Pasti akan sama merepotkannya.

Lagipula, bukankah jika kita memaksakan kehendak untuk memilih dua hal yang kita sukai, biasanya pada akhirnya hanya akan menyebabkan keduanya tidak bisa kita jalani dengan optimal. Alangkah lebih bijaknya jika kita mau berfokus di salah satu dari kedua hal yang kita cintai itu, agar kita bisa lebih mencurahkan segenap perhatian pada satu hal yang kita pilih yang kemungkinan besar lebih kita cintai tersebut.

Di Ahad sore itu, disaksikan air yang mengucur dari kran bak mandi. Saya berkata pada diri sendiri. Tuhan, kawanku itu telah berhasil mempengaruhi niatku, maksudku,dan tujuanku. Kehidupan di depan masih amatlah panjang. Pilihan-pilihan masih terbuka lebar. Maka pliss, tolonglah langkahku.

–>