Tuhan tidak akan pernah bisa kita tipu. Tuhan tahu sebatas mana keikhlasan hati kita. Tuhan tahu setiap lintasan pikiran kita, kebencian serta kedendaman dalam hati kita meskipun tidak  tertampakkan dalam lisan ataupun perbuatan kita. Bahkan setiap lintasan pikiran dalam benak kita pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Kesombongan, keangkuhan, rasa merendahkan orang lain yang mungkin pernah terbersit mesti kita istighfari sebelum tuhan menggolongkan kita sebagai ashabu syimal. Golongan-golongan kiri.

Seiring berubahnya status sosial saya dari ‘seorang pelajar anaknya bapak anu’ menjadi ‘seorang pegawai yang tinggalnya di sebelah rumah bu anu’ saya dipaksa oleh keadaan untuk berbaur dalam lingkungan yang lebih heterogen. Bertemu dengan berbagai macam tipe personal. Pada awalnya, semua nampak berjalan normal. Person-person yang saya temui nampak menunjukkan perilaku wajar, selayaknya masyarakat normal yang mengerti dan mematuhi norma susila dan ketuhanan. Namun, semakin lama saya semakin mengerti. Tuhan berkehendak lain. Sedikit demi sedikit ada saja aib dari person-person yang saya kenal tersebut ditampakkan oleh tuhan. Rasa muak. Itu yang bergejolak dalam batin saya. Tiba-tiba saja saya merasa jijik terhadap dinamika kehidupan orang dewasa. Semua penuh kebohongan. Kebohongan yang tertutupi oleh raut-raut wajah yang seolah tidak berdosa.

Saya bukan ingin merasa sok suci. Mungkin tuhan memang masih berkenan menutupi aib saya dari pandangan orang lain. Namun, satu hal yang saya pelajari dari almarhumah murabbiyah saya. Keselarasan hati, lisan dan perbuatan. Paling tidak jika kita memang betul tidak suka terhadap sesuatu, katakanlah tidak suka, tidak perlu menjadi orang yang munafik dan menampakkan yang sebaliknya. Ah, tuhan, izinkan aku untuk hidup tenang dengan membiarkan aku tak perlu mengetahui kebohongan-kebohongan dari orang-orang di sekelilingku. Betapa menyakitkannya ketika kita mengetahui bahwa wajah-wajah tak berdosa yang selama ini berada di sekeliling kita ternyata hanyalah topeng. Biarkan aku tidak tahu, biarkan aku tidak tahu aib mereka. Agar aku masih bisa menghormati mereka sebagaimana mestinya seorang kawan menghormati kawannya. Dan begitu pula, tutupilah aibku, ampunilah aku, dan terima taubatku.