Seorang teman pria pernah bercerita tentang keinginannya mendapatkan istri yang shalihah. Lantas ia mengikuti pengajian di Masjid Sunda Kelapa setiap akhir pekan dengan tujuan agar dapat berkenalan dengan gadis-gadis di majelis tersebut. Di ujung telepon saya menyimak ocehannya dengan tenang. “Terus ada yang nyangkut nggak?” tanya saya iseng. “Ah, yang ada malah tekor, karena setiap habis ngaji harus makan di kantinnya supaya bisa kenalan sama cewek”. Hihihihi.

Mungkin kita lupa bahwa tuhan telah menjanjikan perempuan yang baik untuk lelaki yang baik dan begitu pula sebaliknya. Jika kita pura-pura ngaji dengan niat untuk mencari pasangan. Itu sah-sah saja. Bagus malah. Daripada nyari di tempat dugem kan. Tapi ya terserah tuhan juga dong, kalau misalkan tuhan mau kasih ketemu dengan perempuan yang pura-pura ngaji juga demi bisa kenalan sama cowok. Kena deh. Hihihi.

Lain cerita, banyak nasihat bagi para kaum jomblo untuk mempersiapkan diri dengan memperbaiki diri sambil menjemput jodoh. Lagi-lagi berdalilkan janji tuhan bahwa perempuan baik untuk lelaki baik. Lalu sang jomblo pun sibuk memperbaiki diri demi mendapatkan pasangan yang baik pula. Betul kok. Tidak ada yang salah. Tidak Masalah.

Akan tetapi, dari dua contoh di atas, malah semakin menegaskan naluri keegoisan pada diri manusia. Mengaji kok demi dapet jodoh. Memperbaiki diri kok supaya nggak jomblo. Lalu di mana kita letakkan tuhan di hati kita? Menuntut ilmu itu wajib, lalu jika tuhan mau memberi bonus dengan bertemunya jodoh dari lingkungan yang baik itu, ya Alhamdulillah. Memperbanyak ibadah nafilah, itu salah satu penyebab datangnya cinta tuhan, lalu jika tuhan mau memberi bonus menjodohkan kita dengan pasangan yang rajin beribadah juga, ya Alhamdulillah.

Di malam yang galau ini saya merenung. Bukan karena saya orang baik. Bukan. Yakinlah, bahwa tulisan ini saya tujukan untuk mengolok-olok keegoisan diri saya sendiri sebagai manusia yang penuh dosa. Bahwasanya kita seakan tidak murni menghambakan diri tanpa berharap imbalan dari tuhan. Luruskan niat, luruskan hati. Bukankah jika kita mengharapkan kesudahan yang baik maka sebaiknya kita memulai dengan niat yang baik pula? Niatkan saja untuk mencari keridhoan tuhan. Jika tuhan sudah ridho, jika tuhan sudah rela. Masa iya tuhan tega melihat kita jomblo.