“Kami adalah butir-butir peluru

Yang siap ditembakkan dan melaju

Mengoyak dan menumbang kezaliman..” (Izzatul Islam – Tekad)

 

Begitulah syair yang biasanya kami bisikkan sebagai penyemangat kesibukan kecil kami. Baut kecil dalam dahsyatnya gelombang amal jama’i demi tersyiarnya dakwah islam. Ups, dakwah. Kata yang terdengar begitu mewah bagi kehidupan yang saat ini kami jalani. Kata yang dahulu begitu sering terdengungkan dari lisan kami. Saat kami merasa sudah waktunya berbagi dan saling mendakwahi. Namun kemudian, benarlah yang dikatakan orang-orang sebelum kami. Kami akan terseleksi, siapa yang akan tetap berdiri dan siapa yang berguguran akan segera diketahui.

Jangankan mendakwahi orang lain, mentarbiyah diri sendiri saja setengah mati. Hidup menjadi bagian masyarakat seutuhnya, turun dari menara gading pendidikan. Beginilah kami, para pemula dalam kehidupan. Segala kejutannya membuat sebagian dari kami kehilangan atas apa-apa yang dahulu kami sebuat sebagai suatu “ke-ideal-an”.

Kini, mengucap kata dakwah pun malu rasanya. Tidak ada yang tersisa selain selembar kain yang masih terulurkan menutup dada. Sementara beberapa di antara kami kini merasa malu dan mulai memangkasnya sesenti demi senti. Biarkan kain inilah yang menjadi pemicu rasa malu kami untuk bermaksiat. Pengingat kami atas apa-apa yang tuhan tidak sukai. Agar kami ingat, ada martabat kawan-kawan kami yang masih konsisten di jalan dakwah yang kami bawa di selembar kain ini. Agar orang tidak mencibiri kain panjang kami yang tidak sesuai dengan akhlak kami. Yaa Rabbi, izinkan al haya’ kami terjaga dengan hijab ini.