Cinta sama sekali tidak buta. Cinta juga tidak selalu melumpuhkan logika. Kita jatuh cinta karena kita memutuskan untuk mencintai. Jika kamu tidak begitu, paling tidak saya begitu. Saya jatuh cinta karena saya memutuskan untuk mencintainya. Saat jatuh cinta, saat itu yang sebenarnya terjadi adalah sebuah proses dimana saya memutuskan untuk belajar mencintai seseorang. Terkadang di tengah jalan, saya tersadar bahwa saya salah jalan dan dia bukanlah orang yang tepat. Maka pada saat itu, muncullah pilihan. Apakah kita mau mengikuti anggapan sebagian orang bahwa cinta itu melumpuhkan logika atau kita mau beristighfar seraya memutuskan untuk bangkit dari cinta yang salah jalan itu.

Invisible hand memang selalu ada, tapi saya percaya bahwa semua bermuara pada keputusan kita. Zat Yang Maha Membolak-balikkan Hati tetap menjalankan perannya. Ia yang akan menimbulkan benih-benih kecenderungan dalam hati kita. Namun sejatinya, apakah kita memutuskan untuk jatuh cinta kepada siapa atau memutuskan untuk bangkit dari cinta yang salah atau tidak semua berada di tangan kita.

Wahai tuhan kami, hadirlah Engkau dalam suka dan dukacita kami. Jangan biarkan air mata ini menetes untuk sesuatu yang tidak Engkau sukai. Jangan biarkan air mata ini menetes untuk alasan selain karena mengharap kasih sayang-Mu. Wahai tuhan kami, hadirlah, hadirlah, hadirlah dalam duka cita ini.