Betul kata orang, cinta itu mampu memutarbalikkan kebiasaan seseorang. Butuh sejuta kekuatan untuk membuka bibir agar mampu mengucapkan sepatah dua patah kata di depan orang yang kukagumi. Lidah kelu. Meski di hati berkelebatan berjuta kata yang mendesak kerongkongan memohon untuk diucap. Pada kenyataannya yang mampu kulakukan hanya diam dan membahasakan semua kata itu lewat sayupnya mataku. Ketahuilah, lisanku tak mampu mengurai rindu yang tersimpan rapi ini.

Rasa rindu yang tak mempunyai tuan. Tumpah ia di heningnya malam. Sesekali kusebut namamu. Kukatakan pada tuhan. Lindungi ia, kumohon. Namun itu sungguh tak adil. Aku tak boleh menyebut nama pada tuhan. Seseorang di masa depan akan cemburu. Kuralat kata-kataku pada tuhan. Lindungi siapapun yang namanya telah kau tuliskan untuk menjadi teman perjalananku, kumohon.

Orang-orang akan menertawaiku. Karena aku menunggu seseorang yang tak tahu bahwa dirinya ditunggu. Aku merindukan seseorang yang tak tahu bahwa dirinya dirindu.

Aku sama sekali tidak mengenalmu. Riwayatmu pun, aku tak tahu. Sungguh. Aku pun tak menyadari kapan pertama kali aku mulai merindukanmu. Kadang aku berkata pada tuhan. Cabutlah rasa rindu ini, karena rindu yang kurasakan sangat menyakitkan. Rindu tanpa sebab. Rindu yang tak mempunyai jalur untuk tersalurkan. Kumohon tuhan, kumohon.

Namun tuhan sepertinya masih ingin mencandaiku. Bayangan tentangmu masih saja singgah di mimpi malamku.

Aku tak bisa tuhan. Aku tak bisa lagi menunggu seseorang yang tak tahu dirinya kutunggu.

Sore itu aku meminta tolong kepada seseorang. Aku berharap ia mampu membantuku menyelesaikan masalahku. Kupikir dengan meninggalkan bayanganmu, secepatnya aku akan mengobati sedikit jiwaku. Ia bertanya padaku, kriteria seperti apa yang kuinginkan untuk menjadi pendampingku. Lama aku terdiam. Yang ingin kulakukan hanyalah menguraikan pandanganku tentangmu. Namun aku hanya diam. Aku tidak bisa mengatakan padanya bahwa yang kuinginkan adalah yang sepertimu. Sepertimu. Namun tak ada yang sepertimu. Kau cuma satu. Maka kujabarkanlah semua hal yang kulihat ada pada dirimu. Meskipun kenyataannya aku tidak bisa berkata apapun. Karena memang aku sama sekali tidak mengenalmu. Yang kutahu hanya bahwa kau punya sebuah kekuatan yang membuatku yakin bahwa kau adalah orang yang baik.

Namun aku harus kembali ke dunia nyata. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku berangan-angan semu. Pun aku tak mungkin mengatakan padamu bahwa aku merindukanmu. Aku takkan mampu menjumpai wajahmu lagi jika kau tahu aku merindukanmu. Maka aku akan berikhtiar di jalan lain untuk mengobati hatiku ini. Aku akan membiarkan tuhan membawaku kemanapun Ia mau. Ke jalan manapun yang Ia mau.