Sore tadi, saya dan beberapa orang teman yang sebagian besar merupakan kaum adam terlibat dalam sebuah perbincangan yang cukup mengaduk-aduk perasaan saya. Kali ini pembicaraan mengalir ke sebuah tema yang selama ini amat saya hindari. Saya selalu menjaga diri untuk tidak terlibat pada tema seperti itu. Bahkan untuk memikirkannya pun saya takut. Tema yang amat sensitif untuk seorang gadis yang belum menikah seperti saya. Ya, kami tengah berbincang tentang wanita-wanita yang terlambat menikah.

Secara kebetulan, di lingkungan instansi kami bekerja, kami bertemu dengan beberapa orang wanita yang mempunyai karir cemerlang namun belum ditakdirkan tuhan untuk bertemu dengan jodohnya hingga di usia mereka yang menjelang senja. Seorang teman berseloroh mengingatkan agar kami para wanita jangan terlalu terpaku mengejar karir dan melupakan hasrat untuk berkeluarga.

Oh, sungguh. Seorang atasan wanita yang belum menikah hingga di usianya yang menginjak empat puluh satu tahun sering bercerita pada saya. Melalui kisah dan guratan ekspresi di wajahnya saya mencoba menyimpulkan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Bahwasanya beliau bukan tidak ingin menikah dan lebih mengutamakan karir. Namun beliau hanya mencoba menyublimasi hasrat berkeluarga yang belum tuhan rezekikan itu dengan menyibukkan diri pada pekerjaan.

Sungguh amat sangat berbeda kondisinya. Wanita yang memilih stay single karena mengutamakan karir dengan wanita yang memilih mencari kesibukan karena belum diamanahi tuhan untuk berbakti pada seorang suami. Saya tidak yakin bahwa ada wanita yang memilih menua seorang diri tanpa kehadiran seorang pelindung yang akan menemani perjalanan hidupnya. Wanita, setegar apapun tampilannya di luar. Di sudut hati terdalamnya pasti merindukan untuk disayangi  dan dicintai. Maka amat sangat tidak patut jika kita mengadili bahwa hal tersebut secara penuh sebagai kesalahan mereka karena terlalu mencintai pekerjaan. Oh, lelaki, andai kalian tahu apa isi hati kami!

Saya jadi teringat dengan candaan seorang teman beberapa waktu yang lalu. Ketika itu kami melihat sebuah poster di pinggir jalan bertuliskan “Usia ideal menikah; pria 25 tahun, wanita 20 tahun”. Lantas saya berkata padanya, “Umurku udah dua puluh satu tahun, gimana dong?” Kemudian dia menjawab, “Itu artinya lo udah nggak boleh nikah” Jleb, saya hanya bisa senyum terkulum. Saya tahu itu hanya candaan, mungkin ia pun sudah lupa pernah melontarkan kalimat itu. Namun bagi  saya kalimat itu sangat membuat dag-dig-dug. Mengingat bilangan tahun berganti dengan cepat dan usia saya sudah memasuki dua puluh dua pada tahun ini.

Namun saya yakin tuhan tak akan pernah menyalahi janjinya. Bukankah Dia telah berfirman “.. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku..” Jika memang tuhan belum mengabulkan doa kita selama di dunia. Yakinlah bahwa tuhan memiliki balasan yang lebih indah di alam setelah ini.

Lagipula, bukankah kemuliaan seorang wanita tidak ditentukan dari kemuliaan lelaki yang mendampinginya ? Pernah dengar hadits tentang empat wanita terbaik di dunia? Tersebutlah nama Khadijah, Fathimah, Asiah dan Maryam. Lihatlah Khadijah dan Fathimah, wanita mulia yang juga bersuamikan lelaki-lelaki mulia. Namun bagaimana dengan Asiah dan Maryam? Asiah, ia tetap diangkat derajatnya meskipun bersuamikan seorang Fir’aun yang mengaku-aku sebagai tuhan. Begitupun dengan Maryam yang semasa hidupnya tak memiliki suami.

Sudahlah, malam ini, biarlah saya lepas ketakutan saya itu dengan kepasrahan pada tuhan.

–>