Tag

Di bawah hembusan udara sejuk yang keluar dari Air Conditioner yang semakin membuat pilek saya semakin menjadi, saya akan mencoba menghangatkan diri dengan menulis. Istirahat sejenak dari mengobrak-abrik laporan obrik. Mari kita biarkan bapak dan ibu rekan senior saya tersebut bercengkerama.

Sedikit berbagi cerita dengan benda kesayangan saya. Tali. Bukan sembarang tali. Tali ini adalah tali dengan kaitan di kedua ujungnya dan mempunyai pegangan kayu ataupun plastik. Yup, jumping rope. Delapan bulan terakhir ini, sudah lima buah jumping rope yang menjadi korban keganasan latihan saya. Halah. Pada waktu awal memulai latihan, saya hanya sanggup berlatih sebanyak seribu kali lompatan setiap hari. Dua minggu kemudian, saya meningkatkan intensitas latihan menjadi tiga ribu lompatan setiap hari. Setelah merasa jenuh dengan jumlah tiga ribu lompatan sehari, mulai pekan lalu saya meningkatkan intensitas latihan sebanyak lima ribu lompatan sehari selama empat puluh menit latihan di pagi hari. Latihan lompat tali saya akui sangat membantu saya menjaga berat badan yang sudah susah payah saya turunkan. Otot paha dan betis terasa lebih menguat.

 

Setiap pergi dinas luar kota, saya selalu membawa harta karun saya ini. Ketika dinas luar kota ke Pulau Sabang, setiap pagi dan sore saya berjalan ke depan Pantai Kasih dan kemudian membentangkan tali saya untuk memulai exercise saya di trotoar pinggir pantai. Wow, perasaan yang luar biasa. Berlatih sambil memandangi hamparan laut berwarna turqoise. 

Ada satu cerita lucu di minggu-minggu awal latihan saya. Saat itu saya mewakili kantor mengikuti funbike yang diadakan oleh Perwakilan BPK Provinsi Aceh. Penggunaan istilah ‘fun’ pada acara tersebut membuat saya berpikir bahwa kami hanya akan berkeliling kota lalu diakhiri dengan makan bersama. Pagi itu setelah sholat subuh saya bergegas pergi ke rumah kawan yang hendak meminjami sepeda dan segera menggowesnya menuju kantor BPK. Hanya ada empat orang wanita yang mengikuti acara tersebut. Saya dan tiga orang pemudi yang langsung saya ajak berkenalan. Sisanya sekitar seratusan orang adalah  pegawai pria instansi pemerintahan di Banda Aceh.

Sebelum berangkat kami diarahkan bahwa track yang akan kami lalui adalah sepanjang tiga puluh delapan kilometer. Start dari kantor BPK dan finish di kaki gunung Paro. Saya yang agak bingung mengartikan jarak sepanjang tiga puluh delapan kilometer itu sejauh apa, pede-pede saja mendengarnya. Saya mengambil tempat start di belakang. Namun lama kelamaan beberapa pengendara mulai mengayuh lebih pelan dan saya termasuk di golongan paling depan. Ternyata track yang harus kami lalui mulai di kilometer dua puluh berupa dua buah bukit yang membuat jantung dan betis ‘ngap-ngap-an’. Para bapak-bapak yang sudah agak uzur terpaksa menumpang truk atau berpegangan pada truk yang lewat. Saya sebenarnya juga sudah hampir menyerah. Namun saya melihat tiga orang pemudi dari kowat -saya awalnya tidak tahu apa artinya kowat itu- mengayuh begitu semangatnya. Wah, mereka kan badannya kecil-kecil. Masa’ saya kalah. Begitu pikir saya. Maka dengan nafas yang tinggal satu-satu, saya sampai di garis finish dengan selamat.

Ketika makan bersama di garis finish saya didekati seorang penggowes pria. Dia berkata bahwa dia memperhatikan saya semenjak di tengah perjalanan. Menurutnya stamina saya sangat bagus bisa bertahan sampai akhir, sementara dia sudah sangat kelelahan. Saya hanya bisa mesem-mesem sambil mengatakan rahasia saya adalah karena saya rajin berlatih lompat tali setiap hari. Lagian malu juga lah ya kalah sama tiga cewek kurus-kurus yang juga kuat sampai garis finish. Saya teringat dengan ketiga orang itu, lalu saya menghampiri mereka dan berbincang-bincang. Oh, ternyata saya salah. Mereka berasal dari KOWAD. Korps Wanita Angkatan Darat. Itu loh yang seringsaya lihat latihan di Lapangan Kodim. Wooooohh… Jadi daritadi saya saingan gowes sepeda sama cewek militer! Ooooh.. Hoke, hoke, ternyata cewek sipil seperti saya nggak kalah stamina juga dari cewek militer. Hahaha.