Tag

Tadi sore saya baru pulang dinas luar kota dari Lhokseumawe. Karena pembiayaan tugas ini didanai oleh dana mitra, tim kami tidak mendapatkan panjar dari kantor untuk biaya hidup selama dinas hingga satu bulan ke depan. Untungnya, objek pemeriksaan kami, sebuah BUMN di kota itu, menyediakan mess sebagai tempat tinggal sehingga kami tidak perlu membayar biaya hotel. Namun biaya transportasi dan makan-makan tim yang terkadang secara spontan dilakukan tetap saja mesti dikeluarkan sebelum biaya perjalanan dinas dicairkan oleh mitra hingga penugasan selesai.

Naasnya, saya baru saja mencanangkan bulan Oktober ini sebagai bulan berhemat. Saya mesti mengumpulkan tabungan jika saja sewaktu-waktu ada yang datang melamar. Lho. Bukan dink, becanda. Hahaha. Pada awal bulan, sesaat gaji ditransfer oleh negara ke rekening BRI, saya langsung menransfer semuanya ke rekening BRI Syariah saya yang atm-nya sudah terblokir karena saya lupa pinnya. Pin atm sengaja tidak saya urus, untuk menyulitkan saya mengotak-atik tabungan. Hahaha. Akhirnya, saya sisakan beberapa ratus ribu di rekening BRI yang saya asumsikan cukup untuk bertahan hingga akhir bulan hingga tunjangan kinerja turun.

Namun ketika mau berangkat ke Lhokseumawe saya yakin bahwa uang yang ada di ATM saya tidak akan cukup saya gunakan untuk bertahan seminggu di sana. Akhirnya di tengah hujan lebat setengah jam sebelum L 300 menjemput ke kantor, saya terpaksa menyambangi kantor BRI Syariah di dekat Masjid Baiturrahman untuk mengambil uang untuk jaga-jaga. Secukupnya saja biar saya tidak boros. Total uang yang ada di dompet saya hanya sekitar lima ratus ribu dengan uang seratus ribu tersisa di atm BRI. Buka-bukaan ajalah kita disini. Toh semua pada tau berapa gaji pe-en-es. Insya Allah aman. Pikir saya.

Ternyata saya belum cukup memperhitungkan semuanya. Saya lupa bahwa tidak mungkin tim yang berangkat ke Lhokseumawe membayar tiket L300 dan biaya makan masing-masing. Biasanya akan ada sukarelawan yang membayar semuanya di muka dan baru diganti di akhir penugasan. Saya terlalu pede bahwa biaya itu akan ditanggung oleh ketua tim. Karena tidak mungkin juga seorang pengendali teknis yang notabene atasan dari tim akan menomboki biaya tersebut. Benar saja, ternyata saya dipercaya oleh ketua tim dan pengendali teknis untuk menomboki biaya itu semua di awal. Padahal uang cuma tersisa lima ratus ribu dan di atm hanya tersisa seratus ribu. Hahaha. Saya tidak mungkin menolak. Saya cuma berharap mereka tidak mengajak membeli sesuatu yang aneh-aneh supaya saya tidak perlu mengaku jika uang saya sudah habis di atm. Hahahaha.

Seminggu telah terlewati. Hari ini kami pulang ke Banda Aceh. Long weekend menanti kami. Kalender menunjukkan bahwa hari Senin cuti bersama untuk menyambut Idul Adha yang jatuh hari Selasa besok. Dan kalian tahu apa? Yup, uang cash saya habis untuk membayar tiket L300. Masih aman, pikir saya. Masih ada seratus ribu untuk bertahan hingga hari Rabu sebelum saya kembali ke kantor BRI Syariah untuk menarik beberapa lembar uang sembari menunggu cairnya dana-dana DL yang lain dari kantor.

Maka sore tadi, selepas L300 mengantar hingga ke pintu rumah. Saya lantas pergi ke Indomaret untuk mengambil seratus ribu terakhir saya itu sekaligus mau membeli roti gandum beserta susu yang telah habis persediaannya di kulkas. Ternyata eh ternyata uang yang bisa diambil cuma lima puluh ribu. Sambil meringis saya ucapkan say goodbye pada roti gandum di rak Sari Roti. Susu dua ratus lima puluh gram saja harganya sudah dua puluh delapan ribu. Sementara saya harus membeli buah beserta sayur untuk masak hingga empat hari ke depan. Sepulang dari Indomaret saya mampir ke Pasar Peunayong, membeli tempe, brokoli dan tomat untuk empat hari. Untung di kulkas masih ada persediaan daging dan telur. Kini uang saya tersisa delapan ribu rupiah. Apel pun tak terbeli. Saya terpaksa membeli tomat lebih banyak untuk menggantikannya. Hahahahaha. Ngenes banget sih nasib gue. 

Sekarang saya hanya banyak-banyak berdoa supaya empat hari ke depan tidak ada kejadian aneh-aneh. Gawat juga jika ban motor saya tiba-tiba bocor tapi saya sedang nggak pegang uang. Hahaha. Seru juga, pikir saya. Menempatkan diri di bawah tekanan-tekanan kecil seperti ini. Asal kejadiannya tidak seperti pada saat Idul Fitri yang lalu. Saat itu dengan pedenya saya pulang ke Jakarta dengan ATM BRI yang kosong. Saya pikir saya bisa menarik uang dari ATM BRI Syariah setibanya di Jakarta. Saya memang tidak pernah menghapal pin ATM BRI Syariah saya, saya hanya mencatatnya di tembok kamar saya di Jakarta dengan menggunakan pensil. 

Tapi, lo tau apa yang terjadi? Setibanya di Jakarta. Saya cuma bisa melongo karena tembok kamar saya sudah berubah warna menjadi biru. Ibu saya sudah mengecat ulang tembok kamar saya. Sementara buku tabungan BRI Syariah tertinggal di Banda Aceh. Saya cuma bisa sedih. Rencana mau hura-hura terancam batal. Hahahaha. Ibu saya menawarkan untuk meminjam uang pada abang saya. Oh, no. Dalam kamus hidup saya, tidak ada yang namanya pinjam uang pada keluarga! Tapi kalo sama temen iya! Hahahaha. Tengah malam itu juga saya telepon Sumi yang baru tiba di rumah mertuanya di Malang. Saya paksa ia untuk kirim uang untuk pegangan saya selama di Jakarta. Hahahaha. Berguna juga punya teman kayak si Sumi kalau lagi susah begitu😛

Yah, begitulah. Hidup sudah susah jangan dibawa stress. Tertawai saja kebodohan kita. Ambil pelajarannya. Nikmati susahnya. Sudah ah curhatnya, mau bobo dulu. Hahaha.