Pernah dengar nama tanaman lidah mertua? Itu lho, tanaman mirip pedang-pedangan berwarna hijau yang kekuningan di bagian tepinya. Nama latinnya sih Sanseviera. Saya penasaran juga kenapa tanaman hias yang mirip plastik itu dinamakan lidah mertua. Saya ambil kesimpulan sendiri berdasarkan pendapat ‘para menantu yang susah diatur’ bahwasanya biasanya lidah mertua itu cukup tajam. Hihihi. Belum pernah ngerasain punya mertua sih😀

Nah, satu hal yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah ketika mendengarkan curhatan seorang teman yang kala itu baru saja menikah dan berkunjung ke rumah mertuanya untuk beberapa pekan. Pada suatu pagi ia melihat suami barunya itu sedang bermanjaan dan memeluk ibundanya di dapur. Lantas ia menelpon saya untuk menumpahkan kekesalannya. Saya belum berpengalaman sih, jadi belum tau rasanya melihat suami sendiri memeluk ibunya. Tapi yang jelas ada di pikiran saya adalah bahwa kejadian seperti itu bukanlah sesuatu yang mesti digelisahkan. Wajar toh anak memeluk ibunya. Itu tandanya suami kita menyayangi ibunya. Bukankah malah bagus jika suami kita termasuk golongan anak yang berbakti pada orang tua?

Lagi-lagi nasehat saya disalahkan. “Lo belum ngalamin sih.” Semua orang selalu berkata seperti itu. Nah, sudah tau saya belum berpengalaman, lalu kenapa kalian masih curhat ke saya, haaa? *bantinghenpon*

Benang merah yang saya lihat adalah bahwasanya sang menantu dan mertua seolah saling berebut perhatian.  Ini tentunya dari sudut pandang menantu yah. Karena seandainya saya memiliki anak lelaki dan suatu saat menjadi mertua, tentunya saya masih tetap ingin disayangi oleh anak lelaki saya. Tapi bukan berarti saya mau merebut perhatian anak saya. Karena memang sudah menjadi kewajiban anak untuk memperhatikan orang tuanya toh😛

Tiba-tiba saya jadi teringat dengan sepasang suami istri yang menurut takdir tuhan ternyata belum digariskan untuk menjadi mertua saya. Menurut pengakuan ‘teman’ saya, ayah beliaulah yang semangat agar saya dan ‘teman’ itu meresmikan ikatan yang sekadar pertemanan ini menjadi pernikahan. Sementara si ibu kelihatan tidak sehangat si ayah. Saya seorang mahasiswi tingkat akhir yang ketika itu masih polos, lugu, dan tidak tahu apa-apa, agak deg-deg ser juga. Apalagi ketika harus ditinggal berdua saja bersama si ibu ketika anggota keluarga yang lain tidak ada.

Namun suasana sedikit mencair ketika di saya mengeluarkan jurus andalan dengan mengajari adik ‘teman saya’ yang akan mengikuti UAN SMP. Nah, saya tunjukkan kemampuan saya mengajar di depan si ibu dan ‘teman’ saya tersebut. Hingga saya merasakan si ibu akhirnya telah sedikit menerima saya. Tapi ya tetep aja, namanya juga belum jodoh, ujungnya nggak jadi juga😀 Paling tidak saya sudah memiliki pengalaman jika di kemudian hari harus menghadapi kondisi yang sama lagi.

Nah, berbeda dengan kasus-kasus di atas. Ini cerita tentang ibu dan kakak ipar perempuan saya. Ibu saya hanya memiliki satu anak laki-laki. Saya tahu betul, abang saya ini memanglah yang paling dibanggakan oleh ibu. Setahun setelah penempatan dinas di Sulawesi Selatan, abang saya meminta izin kepada keluarga untuk menikah. Saya tahu pada saat itu ibu agak sedikit keberatan. Ibu saya menduga-duga bahwa abang saya sudah ‘berbuat salah dengan anak orang’. Apalagi ibu memang belum pernah mendengar cerita abang saya pacaran dengan siapa atau dengan anak siapa.

Beberapa saat sebelum hari H tiba, saat itulah orang tua saya pertama kali bertemu dengan calon mempelai wanita untuk melamarkan sang wanita untuk abang saya. Ternyata istrinya adalah seorang wanita yang terlihat santun dan alim. Terus terang saja, saya yang juga awalnya kecewa karena takut kehilangan abang saya, luluh begitu saja ketika bertemu dengan ‘si mbak ipar’ tersebut. Apalagi beliau jugalah yang mendukung saya untuk memakai jilbab.

Yup, itu dia kakak ipar saya. Beliau jauh sekali dari tipe ‘para menantu yang susah diatur’. Mungkin saya memang tidak tahu apa yang beliau bicarakan di belakang. Tetapi jika dilihat dari perlakuannya pada orang tua saya, beliau terlihat sangat menghormati kedua orang tua saya. Pada suatu pagi beberapa hari yang lalu menjelang berangkat ke kantor, saya amat merasa tertampar-tampar oleh ucapannya. Saya benar-benar merasa bahwa saya masih kurang berbakti sebagai anak. Bahkan si mbak yang statusnya cuma menantu itu bisa lebih menyayangi orang tua saya dibandingkan dengan saya yang anak kandungnya. Saat itu si mbak berkata, “Bapak Ibu sudah tua, waktunya sekarang anak-anaknya membahagiakan dan membalas semua kebaikannya, sayang kalo sampe terlambat.” Dan seketika itu pula bulu kuduk saya meremang. Jilbab yang telah rapi terpasang basah oleh air mata. “Subhanallah, terima kasih tuhan, telah memberikan tambahan satu anak yang berbakti bagi kedua orang tuaku.”