Tag

, , , , , ,

Mata pria itu bergerak menyusuri permukaan meja di hadapan kami. Sementara saya tetap berbicara kepadanya, berbasa-basi menunggu waktu. Pria itu pun menimpali pembicaraan saya namun matanya tetap sibuk memandangi meja yang penuh dengan lembaran kertas itu. Saya pun kemudian ikut-ikutan bertingkah sepertinya. Saya pandangi satu per satu lembaran dokumen yang terhampar di atas meja. Berusaha mencari apa yang sedang dipandangi oleh pria berkopiah di hadapan saya ini. Namun saya lihat pandangannya kosong, tidak seperti tengah menatap sesuatu. Tidak ada titik fokus yang tengah ia tatap. Ia hanya sedang berusaha untuk tidak menatap saya kala kami berbincang!

Bodohnya saya. Posisi saya jelas di sini. Saya adalah calon santriwati. Sedangkan pria di hadapan saya ini adalah seorang ustadz bagian administrasi di dayah tempat saya hendak mengaji. Dayah. Pesantren. Tentu saja beliau menghindari tatapan saya. Beliau hanya sedang berusaha menghormati saya dengan menjaga pandangannya!

Mungkin diri sayalah yang sudah terlalu banyak tercemar dengan ilmu duniawi. Ilmu duniawi yang mengajarkan saya untuk menjaga kontak mata setiap kali bercakap-cakap dengan seseorang. Kemudian saya mempraktekkannya tanpa pandang bulu, pria ataupun wanita.

Terlalu lama berada di lingkungan yang menganggap ikhtilath adalah hal biasa semakin membuat saya melupakan nilai-nilai yang seharusnya tetap saya pegang erat. Lho kok menyalahkan lingkungan?  Ini salahmu sendiri kenapa tidak bisa menjaga diri. Kenapa tidak ingat konsep berbaur tapi tidak melebur? Innalillahi wa innailaihirajiun.