Cintai aku apa adanya. Begitu kalimat yang sering saya dengar. Saya tidak pernah setuju dengan kalimat itu. Mencintai seseorang, pada hakikatnya berarti menginginkan orang yang kita cintai berada dalam kebaikan. Jika pada kondisi saat ini dia sedang di jalan yang salah, tentu kalimat “cintai aku apa adanya” sangat bertolak belakang dengan makna kecintaan itu sendiri.

Saling mencintai dalam frasa romantis, menurut saya, berarti ada dua orang yang saling bahu-membahu untuk memperbaiki diri. Seorang calon istri bertekad senantiasa menjadi pendukung bagi perubahan suaminya ke arah kebaikan. Begitu pula sang calon suami yang akan senantiasa menasihati istrinya agar meninggalkan sifat-sifat buruknya. Karena tidak ada manusia yang sempurna.

Berharap bahwa calon suami atau istri kita adalah bidadari tanpa cela yang tuhan kirimkan ke dunia, pada akhirnya hanya akan berakhir pada kekecewaan. Maka, karena itulah tuhan memberikan sedikit hasrat dalam setiap diri manusia untuk mentarbiyah ‘dia’ yang kita cintai. Karena kita hanyalah manusia yang tidak dijamin kemaksumannya seperti para ahlul bait. Kita. Aku. Karena aku hanyalah wanita akhir zaman yang sangat membutuhkan bimbinganmu, wahai calon kekasihku di surga kelak. Tidak pernah sedikit pun terlintas untuk berharap kau akan menerimaku apa adanya. Karena aku menginginkan orang yang senantiasa menasihatiku di kala aku tersalah.