Saya tertawa lepas ketika bertemu dengan seorang kawan lama tadi sore. Kami tengah berbincang tentang kenangan semasa es-em-a dulu. Bercerita tentang betapa pongahnya kami saat itu. Merasa menjadi anak rohis paling alim di antara siswa yang lain. Tak sengaja pada perbincangan itu kawan saya menyinggung tentang marhalah yang ada di struktur kaderisasi suatu harakah. Lantas saya bertanya, “..terus status kita waktu liqo jaman es-em-a itu di tingkatan mana?”. Sambil sibuk mengiris daging  di piringnya, dengan santai dia menjawab “.. itu mah masih pra-pemula, masih mentoring, belum masuk tingkatan yang gue sebut tadi..”. What? Hahahaha.

Padahal pada tingkatan yang masih “pra” lebih beberapa bulan di kampus itu, saya sudah merasa sok tahu dan kemudian memutuskan bercerai dengan harakah tersebut untuk memulai pengembaraan yang belum berujung hingga detik ini. Menyesalkah? Jawabannya fifty-fifty. Antara ya dan tidak. Saya tidak akan bercerita mengapa saya tidak menyesal karena pasti akan membutuhkan tulisan beserta alasan yang sangat amat panjang sekali. Alasan yang sampai saat ini belum sempat saya paparkan pada almarhumah mantan murabbiyah saya, Kak Ratna, yang amat shock dengan keputusan yang saya ambil.

Ya. Saya menyesal. Ini tentang ukhuwwah. Persaudaraan. Saya akui, kelebihan yang paling saya rasakan ketika bergabung di harakah yang tidak boleh disebut namanya itu adalah di kuatnya ikatan persaudaraan sesama kader. Terasa sekali. Kawan-kawan yang saya temukan seperjalanan ketika waktu es-em-a dulu, tetap menjadi sahabat dekat saya hingga sekarang. Persamaan ideologilah yang membuat kami erat. Meskipun sekarang sudah berbeda-beda pemahaman, namun persamaan atas histori ideologi yang sama masih mampu menyatukan kami.

Namun berbeda ketika masuk di dunia kuliah. Saat saya memutuskan berpaling dari harakah yang membimbing saya dari semasa saya cupu itu meskipun sekarang juga masih tetep cupu    seketika itu juga seolah saya telah memutuskan ikatan dengan kawan selingkaran. Tidak. Saya tidak ingin berpisah seperti ini. Saya masih ingin berbagi cerita, berkawan dengan kalian. Tolong saya jangan ditinggalkan. Oh, tapi apa daya, desahan batin saya itu tak ada yang mendengar. Mungkin begitu memang aturannya. Ruh itu seperti pasukan yang berbaris, maka yang saling mengenal akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih. Dan ketika saya memutuskan untuk keluar, pada saat itu pula saya menyatakan diri mengingkari kebersamaan kami. Ah.

Saat ini, ketika jauh dari kampung halaman dan saya tengah kebingungan mencari lingkungan pertemanan baru untuk berkembang. Saya sangat menyesalinya. Peduli setan dengan kepartaian. Saya tidak butuh. Saya butuh kawan untuk saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Setelah lima tahun lelah berjalan sendirian berusaha meredam kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan yang terus bergolak di pikiran saya. Hingga di suatu sore, seorang istri senior di tempat kerja ketika mendengar kabar saya bergabung di suatu kelompok tahsin milik harakah yang tidak boleh disebut namanya itu dan kemudian menawarkan saya via pesan whatsapp. “Jadi, anti masih mau liqo lagi?”. Ambil, atau tidak? Sebentar saya mau menghitung kancing dulu.

 

Ciawi, 29 Agustus 2013