Bulan Ramadhan nggak ada penugasan begini gampang membuat galau. Baru saja tadi siang posting tentang cerianya belajar memasak, masa sekarang tiba-tiba mau curhat tentang cinta hahaha…  Oke-oke, jangan khawatir, karena cinta yang mau dipaparkan kali ini adalah cinta versinya si pujul. Eh, memang apa bedanya cinta versi si pujul sama cinta versi orang-orang lain? Kalo versinya saya, ngomong cinta-nya harus pake “H”, cintah, soalnya keluar dari hati yang terdalam hahahaa..

Tapi terus terang saja, satu kata keramat ini masih betul-betul membingungkan bagi saya. Beda kepala, beda nasihat pula yang diberikan. Mario Teguh bilang, katakan! sampaikan! Sementara para ustadz bilang, cintailah dalam diam. Nah loh, salah langkah bisa gawat urusannya. Pertaruhan harga diri ini sih namanya. Sayangnya, sampai saat ini saya merasa belum menemukan pria seperti Nabi Muhammad yang patut untuk dilamar dengan cara seperti yang Khadijah lakukan. Jika ada pria seperti itu, melamar pria dan mengungkapkan perasaan pun tak mungkin sungkan rasanya. Namun sebelum ada pria yang berakhlak seperti itu, maka saya lebih memilih untuk mengikuti nasihat para ustadz untuk mencintai dalam diam.

Saya merasa sudah membuat lisan saya diam. Namun entah mengapa, bahasa tubuh saya selalu saja tidak bisa diajak bersahabat. Seolah malah menunjukkan apa yang tersembunyi di dasar hati sehingga orang-orang di sekeliling saya bisa dengan mudah memahami perasaan saya. Oh No. Apakah saya memang terlahir dengan pembawaan ekspresif? Oh Tuhan. Saya perempuan. Meskipun ada beberapa teman yang tidak setuju dengan pendapat saya ini, namun saya tetap beranggapan bahwa adalah aib jika seorang perempuan diketahui jatuh cinta terlebih dahulu kepada seorang pria.

Oke, cinta, apa sih cinta itu? Banyak yang meyerah mendefinisikannya. Begitupun saya. Saya tak mampu mengurainya menjadi kalimat yang lebih mudah dicerna. Namun yang saya tahu, cinta (cinta romantis tentunya yang saya maksud di sini) adalah sebuah perasaan ketika kita ingin sekali menjadikan dia sebagai sosok yang akan kita temani perjalanannya hingga ke surga. Ya, indikator kecintaan bagi saya adalah ketika kita ingin menemani orang yang kita cintai hingga di akhirat nanti. Jadi ketika ada yang bertanya pada saya, “kamu mencintainya atau tidak?” maka yang berkelebat di benak saya adalah sekumpulan pertanyaan, apakah dia bisa diajak berjuang menuju apa yang tuhan inginkan, dan mau serta mampukah dia dan saya bertemu lagi di akhirat nanti dalam keadaan wajah yang berseri-seri. So simple. Semudah itu.

Dan saat-saat paling romantis ketika jatuh cinta bukanlah ketika kita memandangi wajah orang yang kita cintai tersebut. Tapi saat-saat paling romantis adalah ketika kita menyebut namanya dalam hening di tengah doa kita pada tuhan. Meminta agar tuhan memberikan langkah yang terbaik untuk dia yang kita cintai. Meminta agar tuhan menjaganya dari ketergelinciran yang menyebabkan kemarahan tuhan. Karena sesungguhnya, doa kita kepada saudara kita sementara orang yang kita doakan itu tidak tahu bahwa kita mendoakannya, maka para malaikat pun akan mengaminkan doa tersebut untuk kita. “Amin, dan begitu pula bagimu.”