Tongseng. Dari semangkuk tongseng, banyak cerita bisa mengalir. Agama, tekad, kegigihan, persahabatan, dan juga kenangan. Itulah mengapa saya suka menikmati hangatnya daging kambing berkuah kental itu. Setiap sendok yang tercicip serta merta akan membawa saya kembali kepada kenangan-kenangan yang pernah saya lalui bersama seorang teman di Jakarta.

Tiga tahun sudah berlalu. Waktu berputar cepat sekali. Semenjak pertama kali kami saling mengenal. Pasca menghadiri kajian di ICC Pejaten teman saya mengajak saya untuk melanjutkan diskusi di sebuah kedai tongseng di daerah Jatipadang. Terus terang itu adalah kali pertamanya lidah saya merasakan bahwa daging kambing itu ternyata lezat. Karena saya memang jarang sekali mencicipi daging kambing selain dalam bentuk sate atau sup.


Ibu saya menderita darah tinggi, maka wajar saja jika konsumsi daging kambing di keluarga kami memang cukup dibatasi. Ibu lebih memilih untuk mengolah makanan dari daging sapi daripada makanan dari daging kambing.

Kenyalnya daging kambing berpadu dengan kuah tongseng yang harum menemani diskusi kami malam itu. Hal ini pun lambat laun menjadi kebiasaan kami. Sepulang menghadiri kajian di ICC biasanya kami akan melanjutkan perdebatan-perdebatan kami mengenai materi yang baru saja disampaikan di kedai tersebut. Sebetulnya sering juga kami berwisata kuliner mencoba resto-resto di sekitar Jakarta. Dan sering pula kami menjelajah dan mencicipi racikan penjual tongseng di kedai-kedai lain. Tapi tetap saja kami merasa bahwa kedai itulah yang paling istimewa buat kami dan kami tetap kembali dan kembali terus ke sana.

Bahkan beberapa momen-momen penting, misalkan pada saat saya baru saja diwisuda, kami rayakan dengan mentraktir semangkuk tongseng untuknya di kedai itu. Daripada mencoba resto baru yang belum jelas rasanya dan harganya.

Saat ini, kebiasaan makan tongseng sepulang mengaji hanya dia sendirianlah yang melakoninya semenjak saya harus pindah ke Banda Aceh. Kadang kami suka bertukar foto makanan yang kami makan khususnya tongseng jati padang tersebut via whatsapp. Membayangkan seolah-olah kami tengah bertatap muka, berdiskusi dan berdebat seperti biasanya.

Saya pun tidak mau ketinggalan. Pertama kalinya menjejakkan kaki di ujung barat Sumatera ini. Tongsenglah yang pertama kali saya cari. Wah, ternyata banyak warung makan yang memasang tulisan “Menyediakan Nasi Kambing”. Yang ada dalam pikiran saya, pasti saya bisa menemukan makanan sejenis tongseng di warung-warung tersebut. Tapi sayang yang saya dapat hanyalah makanan berbentuk seperti sup kambing biasa saja.

Pada akhirnya, di bulan ketiga di Banda Aceh saya menemukan satu-satunya penjual tongseng di Banda Aceh. Tepatnya ada di sebelah Pasar Neusu. Itupun tidak sengaja pula saya menemukan kedai itu ketika hendak mengunjungi teman-teman di komplek BPKP Lamlagang. Wah, bahagia sekali rasanya. Penjualnya adalah satu keluarga yang dari bahasanya saya yakin mereka masih keturunan  Jawa. Meskipun dari segi rasa dan penampilan masih belum seistimewa tongseng kambing Jatipadang. Lumayanlah untuk sekedar mengobati kerinduan akan kampung halaman dan kerinduan akan diskusi hangat bersama kawan saya.

Sampai suatu ketika, saya pernah berjanji akan mentraktir seorang kawan yang telah membantu saya mengambil paket motor di terminal barang di Desa Santan, Aceh Besar. Saya pun membawakan sebungkus tongseng kambing kesukaan saya untuknya. Berharap dia pun akan menyukainya sama seperti saya. Tapi ternyata, ups… Saya tidak tahu bahwa teman saya itu menderita darah tinggi dan tidak bisa mengonsumsi daging kambing. Sayang sekali. Padahal tekstur daging kambing lebih luar biasa daripada tekstur dan rasa daging sapi yang terkesan lebih manis.

Dan sekarang saya pun mengajak beberapa teman terdekat saya di Banda Aceh untuk mencicipi tongseng kambing di pasar Neusu. Berharap mampu membuat kenangan baru dengan cara lama. Tapi sepertinya belum akan ada yang menggantikan teman makan tongseng dan teman berwisata kulinerku di Jakarta itu. Rindu.