Beberapa waktu yang lalu, sepulang dari kantor saya mampir dulu ke Lambhuk Swalayan untuk membeli beberapa camilan ringan. Rencananya saya akan mampir ke Pelabuhan Ulee Lheue untuk sekedar memandangi laut dan menyegarkan pikiran. Setibanya di pelabuhan, motor pun saya parkirkan di sebelah deretan penjual jagung bakar. Saya melirik kanan kiri mencari spot yang kira-kira bisa saya gunakan untuk melamun. Pandangan saya tertuju pada tumpukan batu besar yang disusun di tengah pantai untuk menghalangi datangnya ombak. Nah itu dia, saya mau memandangi datangnya sunset di atas bebatuan itu, pikir saya.


Di antara orang-orang yang sudah lebih dulu berpencar di atas batu, saya pun mencopot sepatu berhak saya dan memanjat batu-batuan besar itu agar bisa lebih dekat lagi ke arah laut. Perfek. Tempat menyendiri yang asyik. Sambil mendengarkan hembusan suara ombak yang datang dan dipecahkan oleh karang, pikiran saya melayang-layang membayangkan indahnya suasana pantai ini bila dinikmati bersama ibu dan adik saya. Kacang telor garuda pun menemani kesendirian saya sore itu.

Selalu saja, kebahagiaan-kebahagiaan saya bisa dengan seketika berubah menjadi kesedihan. Air mata pun tak bisa saya tahan lagi untuk tidak menetes. Betapa malangnya orang yang menikmati kebahagiaannya seorang diri. Tertawa pun terasa menyakitkan. Kala itu, saya rindu kehangatan ibu dan saudara-saudara saya lainnya.

Di tengah larutnya dalam himne alam yang menggetarkan kenangan-kenangan masa di kampung halaman, tiba-tiba melintaslah dua orang pemuda yang dari penampilannya agak urakan.  Salah satunya berkata kepada yang lain. “Begitulah hidup, apa yang kamu perjuangkan? Banyak orang hidup hanya untuk memperjuangkan cinta… bla..bla..” Hanya kalimat itu yang saya sempat dengar. Karena mereka langsung mencari tempat menepi yang letaknya agak jauh dari saya. Hah, benar loh itu yang saya dengar, mas-mas itu pun menggunakan kalimat dengan EYD yang tepat sehingga membuat saya sekilas memandang ke arahnya.

Kalimat singkat itulah yang tiba-tiba kembali menegarkan saya. “Apa yang kamu perjuangkan dalam hidupmu? Apa yang aku perjuangkan dalam hidupku?” Batin saya bercakap-cakap sendiri. “Apa yang aku perjuangkan hingga aku harus rela berpisah jauh dengan orang-orang yang kusayangi?”.

“Ibu, sekali lagi ibu. Kamulah alasanku hingga aku berada sejauh ini darimu. Bukan karena aku tidak memikirkanmu. Tapi justru karena begitu besarnya rasa cinta ini. Engkau yang aku perjuangkan. Karena aku mau melihat kebanggaan di matamu saat memandangku dan menyebut nama anakmu ini.”

Ah. Cengeng sekali. Sekali lagi, yang jelas selain itu semua ada hal yang lebih penting lagi. Mengingat kembali sebab kita didamparkan di bumi ini.  Yauma Yafirru al-Mar’u min Akhihi wa Ummihi wa Abihi wa Shohibatihi wa Banihi. Mengingat kemana akhir perjalanan kita. Mengingat hari akhir di mana manusia lari dari saudaranya, dari ayahnya, dari ibunya, juga saudara dan anak-anaknya.

Yang saya ingat, semua yang hidup, pada akhirnya akan berpisah dari kita. Saudara, ibu, ayah, kawan seperjalanan, dan anak-anak kita pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri dan kembali pada tuhan. Apakah kita hanya ingin bersama mereka di dunia ini? Tdakkah kita memperjuangkan agar kita bisa hidup bersama mereka lagi di akhirat. Berkumpul bersama lagi di akhirat. Di surga Allah. Itu yang tengah kuperjuangkan ibu. Itu yang akan saya perjuangkan.