Terlalu cemas memikirkan masa depan sama artinya dengan menyia-nyiakan waktu yang tuhan berikan di masa sekarang. Bukan berarti kita tidak boleh berencana dan merancang jalan hidup kita. Perencanaan itu wajib. Tapi setelah merencanakan, berpasrahlah. Biar tuhan yang mengatur selebihnya.

Saya ingat betul bodohnya diri saya ketika pertama kali merantau jauh dari orang tua. Masa empat bulan pertama merupakan fase denial terberat yang harus saya jalani. Saat itu saya  baru saja pindah ke sebuah rumah kontrakan dua kamar setelah sebelumnya mengungsi di sebuah kamar kos sempit di dekat kantor. Saya pun mulai hunting peralatan rumah tangga sederhana, mulai dari kompor, penggorengan, blender, sampai cobek kayu. Tak terasa barang-barang printilan tersebut ternyata cukup menguras uang pindah yang diberikan kantor.


Saya mencoba bertahan selama beberapa waktu. Memasak makanan lalu dihangatkan setiap hendak makan. Kendalanya adalah, saya masak untuk seorang diri. Tetapi saat belanja di pasar, bahan-bahan makanan tidak bisa dibeli untuk ukuran seporsi. Lagipula tidak efisien jika harus beli cabe seribu rupiah misalnya. Masa’ harus setiap hari bolak-balik ke pasar. Apalagi ketika membeli ayam potong. Paling sedikit harus membeli separuh tubuh yang bisa dipotong menjadi enam bagian. Saya pun berpikir untuk membeli lemari es. Bahan-bahan makanan ini butuh tempat supaya awet sampai seminggu ke depan.

Hunting lemari es pun dimulai. Mulai dari membandingkan harga antara satu merk dengan merk lainnya dengan berbagai pilihan model. Oke, pilihan jatuh pada Toshiba Glacio mini bar. Sebuah kulkas kecil yang biasanya digunakan sebgai mini bar di kamar-kamar hotel. Saya sengaja pilih ukuran mini supaya mudah diangkat jika suatu waktu saya harus dimutasi ke Jakarta dan tidak ada waktu untuk melelang barang-barang. Apalagi saya juga memang tipe orang yang tidak bisa meninggalkan barang-barang kenangan begitu saja. Jika biaya pengangkutan sama besarnya dengan kerugian menjual barang seken tersebut ke tukang loak. Maka saya akan lebih memilih untuk membayar biaya angkut agar barang-barang saya tersebut bisa saya gotong kemanapun juga.

Pagi itu saya pun mulai mencoba menghubungi beberapa perusahaan kargo. Menanyakan tarif pengiriman dari Banda Aceh ke Jakarta untuk sepeda motor dan perabotan rumah tangga termasuk kulkas mini yang baru saya rencanakan akan saya beli. Yah sekadar ancang-ancang, jika dimutasi, maka semua barang siap diangkut.

“Pak, kirim barang ke Jakarta kira-kira seratus kilogram, bentuknya kardus-kardus dan kulkas, berapa ya?”, sebuah sms saya kirimkan kepada nomor yang tertera di website iklan jasa pengiriman.

“Untuk pengiriman tanggal berapa ya? Kalau bisa kasih alamat rumahnya aja, biar kami timbang langsung beratnya dan dihitung total biayanya. Karena kami pakai sistem borongan”, begitulah kira-kira reply sms dari sang pemilik kargo.

Jedeeeer, ibarat kata di sinetron, tiba-tiba muncul kilat di kepala saya disertai backsound halilintar. Apa-apaan ini si Bapak tiba-tiba mau nimbang-nimbang barang ke rumah. Wong, kulkasnya aja belum dibeli. SK Mutasi ke Jakarta pun entah kapan keluarnya. Pindah ke Banda Aceh pun baru dua bulan.

Saya pun terdiam. Tertunduk malu. Selama ini saya bersikap seolah tidak mensyukuri takdir tuhan yang telah menuntun saya untuk melangkah ke tempat baru ini. Sebentar-sebentar selalu beralasan, “Nanti kalau dapat SK Mutasi ke Jakarta gimana?”. Padahal orang yang sudah lama menetap di Banda Aceh dan mengajukan pindah ke Pulau Jawa pun sampai sekarang belum jelas kapan keluar SK pindahnya.

Mengapa saya menyia-nyiakan hikmah yang tuhan sediakan untuk pendewasaan diri saya di tempat ini dengan selalu mengangan-angankan apa yang belum ada. Mengapa kita tidak mencoba untuk lebih menghargai hari ini. Menikmati setiap detik yang disajikan tuhan, kepahitan atau kemanisannya. Rasakan saja.  Jika pahit, tangisi untuk hari ini, jika manis, bersyukurlah.

Setelah itu tersenyumlah, kepada siapapun. Berharaplah semoga wajah ceria kita bisa menjadi pemanis atas kepahitan yang tengah saudara kita tangisi. Masa sekarang akan lebih indah dikenang di masa depan apabila kita bertekad menjadikan hari ini sebagai sejarah manis penuh senyuman dan semangat, sekalipun di tengah perjuangan dan pengorbanan yang menyakitkan. Tuhan pasti punya rencana. Tuhan itu adil, hanya kita saja yang tidak mau bersabar.