Saya bingung mau memberi judul artikel ini apa. Saya cuma lagi merasa kesepian, sedih, dan butuh teman. Memang merantau itu banyak suka-dukanya. Mulai dari harus terbiasa cuci baju sendiri, masak sendiri, beres-beres rumah. Pokoknya semua tentang cara belajar menjadi lebih mandiri. Setelah 21 tahun hidup di jakarta selalu minta tolong sama si emak.

Setiap menjelang maghrib, lantunan bacaan qur’an dari masjid dekat rumah kontrakan selalu saja membuat saya menitikkan air mata. Lebay memang, saya hanya di Aceh. Sementara banyak teman saya yang merantau jauh keluar negeri tapi tidak secengeng saya. Hitung-hitung belajar saat sudah menjadi istri nanti. Itupun kalau sempat menikah sebelum ajal menjemput saya.

Dari 17 orang anak STAN yang terlempar ke BPKP Aceh, hanya saya satu-satunya yang perempuan. Menderita? Tidak juga. Paling hanya berasa dianaktirikan oleh keenambelas teman yang lain. Sulit rasanya bersahabat dekat dengan laki-laki bagi seorang seperti saya. Teringat ketika di zaman muda dulu waktu ghirah masih tinggi-tingginya, penjagaan diri dari bukan mahram, itu nomor satu. Namun entah mengapa sekarang seperti menguap hilang tak tahu kemana.

Jadi intinya, saya sendiri juga bingung, ini artikel mau dibawa kemana. Curhat tentang perantauan, kangen emak, penjagaan diri, atau galau karena pengen kawin?  ah, entahlah, yang jelas hari ini saya sedang membenci diri sendiri.