Tag

Selamat sore sodara-sodara, mumpung bos lagi ngerokok di luar, mari kita manfaatkan internet kantor untuk posting di blog😀

Artikel kali ini masih tentang gigi yah, spesifiknya yaitu proses pembuatan jaket bagi mahkota gigi depan saya. Jadi ceritanya waktu masih SD saya ini paling senang main lompat tali sama teman-teman., Tibalah di suatu malam yang naas, saat tengah asik-asiknya koprol, bruuuukk… keplesetlah kaki saya dan muka saya menghantam ubin plester di depan rumah. Gigi saya berdarah dan mahkotanya patah. Semenjak itulah saya seolah tumbuh menjadi anak sholehah yang sangat pemalu dan jika tertawa selalu menutup mulut. Halah. Lumayanlah ya sekalian ngikutin sunnah Nabi Muhammad kalo ketawa jangan sampe ngakak banget. Alesan aja deh gue😛


Yak, jadi saat itu saya masih belum ngerti harus diapakan gigi saya ini. Sebelum saya datang ke Rumah Sakit Gigi dan Mulut Universitas Indonesia (RSGM UI) saya terlebih dulu mampir ke klinik gigi di kampus saya (sebut saja kampus STAN :D). Ditamballah oleh sang bapak dokter yang cerewet dan selalu marahin saya setiap kali datang, marah karena saya tidak bawa tissue-lah sampai dimarahi karena gigi saya sudah banyak bolongnya. Aduh, ampun DJ… gue mau berobat malah diceramahin mulu.

Setelah ditambal sama si bapak dokter pake sau adonan putih dan kemudian di laser agar mengeras. Ternyata satu minggu kemudian tambalan saya itu patah lagi. Kembalilah lagi saya ke klinik kampus untuk protes sama si bapak dokter. Si pak dokter itu pun menyerah dan merujuk saya untuk datang ke RSGM UI Salemba. Begitulah ceritanya awal mula saya datang ke RSGM UI dan jadi pasien paling rajin dateng ke klinik saban minggunya.

Di artikel jilid I dan jilid II, saya sudah cerita mengenai pengalaman saya operasi gigi bungsu dan perawatan saluran akar saya. Akhirnya setelah dua tahap renovasi gigi saya yang panjang itu, mahasiswa yang menangani saya akan segera memulai untuk merenovasi mahkota gigi depan saya. GIgi saya akan dibuatkan jaket! yeay… Pertimbangan kenapa gigi saya harus dijaket adalah karena patahan gigi saya sudah muncul karies juga yang jika hanya ditambal biasa kemungkinan besar akan copot lagi-copot lagi.

Oke, akhirnya diputuskan akan dibuat jaket gigi dengan komposisi bagian depan menggunakan keramik putih dan bagian belakang menggunakan semacam timah atau apalah saya lupa namanya. Pokoknya yang bagian belakang itu bukan dari keramik, alasannya supaya si jaket lebih awet dan tahan lama.

Proses pembuatan jaket gigi ini memakan waktu yang lumayan lama. Hampir dua bulan saya bolak-balik setiap minggunya. Pada awalnya gigi saya dipreparasi, dibuang kariesnya dan ditipiskan dibagian kiri dan kanannya agar nantinya si jaket bisa menyelubuingi gigi asli saya. Seselesainya dipreparasi saya dikasih kaca… OMG… apa-apaan ini gigi gue tinggal separo…. Sayang nasi sudah menjadi lontong, saya cuma bisa pasrah mengikuti apa kata si mbak calon drg ini deh.

Lalu saya kembali berhadapan dengan adonan merah muda untuk mencetak bentuk gigi saya dan akan dibuatkan jaket sementara untuk gigi saya selama jaket permanen masih dikerjakan di laboratorium. Minggu depannya saya dijadwalkan untuk datang kembali ke klinik untuk mencoba apakah jaket permanen gigi saya sudah pas atau belum. Pada saat mau mencoba jaket permanen, otomatis jaket sementara yang sudah dilem ke gigi saya itupun mau tak mau harus dibuka lah ya. Dan rasanya saat jaket sementara itu dibuka, Ya Allooooh semriwing tenan…. Ngilu sekali rasanya……

Dua bulan kemudian, akhirnya jaket permanen saya yang sudah bolak-balik masuk laboratorium untuk terus dicocokkan dengan struktur gigi saya pun akhirnya bisa dipasang seutuhnya. Dan akhirnya saya punya gigi bagus lagi😀 Untuk pembuatan jaket mahkota gigi itu saya harus membayar biaya laboratoriumnya sebesar 800ribu rupiah. 

Alhamdulillah, sekarang saya sudah tidak malu lagi untuk tersenyum lebar😀

Semoga artikel ini bermanfaat untuk para pembaca. Karena saya tahu banyak yang nyasar ke blog saya karena mencari tentang gigi bungsu patah di google🙂

Sampai jumpa di kisah pengalaman saya berikutnya🙂