Tag

Semenjak tanggal 14 Desember 2012 lalu, banyak sudah yang berubah dari hidup saya. Jika biasanya saat saya sedang badmood saya pasti langsung berseluncur ria di chatroom milik yahoo. Mencari-cari siapa yang kira-kira bisa saya ajak ngobrol, mencari teman baru yang potensial untuk dijadikan pasangan hidup. Namun sekarang tidak bisa lagi saya menikmati itu. Karena Yahoo telah menghapus fitur chatroom-nya.

Begitu banyak kenangan dan pelajaran serta perkenalan yang Yahoo Chat berikan. Salah satunya yang paling terakhir adalah perkenalan saya via chat dengan seorang pria asal Pakistan.

Ada dua hal yang selalu saya hindari semenjak masa-masa sekolah. Bahasa Inggris dan Ekonomi. Saya menganggap bahwa keduanya bukanlah bidang saya dan kerumitan untuk memahami Bahasa Inggris dan masalah perekonomian membuat saya sudah menyerah sebelum sempat memulai untuk berperang.

Bahkan selama chat di yahoo pun saya selalu menghindari untuk chat dengan orang asing, karena saya amat sangat tidak pede dengan kemampuan Bahasa Inggris yang saya miliki. Namun semua berubah saat saya berkenalan dengan pria Pakistani tersebut tepat di malam takbiran tujuh bulan yang lalu. Dan saya sadar, inilah titik awal perubahan pemikiran atas apa yang saya hindari selama ini.

Sama halnya ketika saya menerjunkan diri di dunia perekonomian dan memutuskannya sebagai jalan hidup saya, karir saya, dengan memasrahkan diri mengikuti perkuliahan di kampus STAN dan sekarang ditakdirkan menjadi auditor di Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan. Saya pun menetapkan, di titik inilah saatnya saya memulai untuk menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa kedua. Memalukan memang, baru memiliki kesadaran di umur yang sudah 21 tahun ini. Apalagi sebabnya hanya karena seorang laki-laki asing yang sama sekali saya tidak kenal sebelumnya.

Memang betul kata orang, cinta itu bisa membuat orang yang kuat menjadi lemah dan membuat yang lemah menjadi kuat. Halah. Cinta apanya, kenal juga baru sehari langsung ngomongin cinta hahaha… Yang jelas memang sih wajah pakistannya yang ganteng, hidungnya yang bagaikan pinokio (serem dunk hehehe) sesaat membuat terpikat. Tapi, setelah berbincang lebih jauh, via yahoo ataupun skype, mendengar bacaan Qur’annya yang begitu merdu dan tartil, sikapnya yang sopan akhirnya muncul juga perasaan bunga-bunga asmara itu di hati saya hahaha… Namanya juga dunia maya, rasanya yang jauh pun bisa terasa dekat. Tapi, selama yang lokal saja belum habis, nggak perlulah rasanya saya repot-repot impor dari Pakistan😛

Namun, rasa penasaran yang begitu luar biasa mengantarkan jari-jari saya untuk mencari tahu di Google segala sesuatu tentang Pakistan. Hingga akhirnya, mampirlah saya di sebuah blog multiply milik perkumpulan wanita-wanita Indonesia yang menikah dengan pria-pria Pakistan. Saya add sang pengurus perkumpulan tersebut melalui Yahoo Messenger saya dan oleh beliau saya dirujuk untuk bergabung dengan grup Facebook yang bernama Indomc For Pakistan : Merantau Di Pakistan. Oke siapa takut, masuklah saya ke grup tersebut… dan ternyata, OMG.. Ada juga yah grup-grup beginian di internet. Salut banget dengan pesatnya kemajuan teknologi sehingga mempermudah penyebaran informasi seperti ini.

Banyak juga ternyata wanita-wanita yang terkena bujuk rayu si pinokio. Saya perhatikan silih berganti para junior baru seperti saya keluar masuk grup tersebut. Izin masuk lalu pamit keluar karena ternyata belum berjodoh untuk saling membersamai. Lucu, sedih, haru. Melihat bagaimana perjuangan para rekan-rekan senior yang sudah berhasil memperjuangkan cinta dan bersatu di dalam sebuah ikatan pernikahan. Nasihat-nasihat berharga untuk tidak terbutakan oleh cinta dan berpikir menggunakan logika. Karena kultur Pakistan dan Indonesia yang begitu berbeda, kami para junior diperingatkan untuk tidak terbuai dengan impian-impian semu di negeri sana. Karena kenyataannya Indonesia lebih baik daripada negeri impian Pakistan😛

Melalui pengamatan terhadap pengalaman yang dibagi oleh rekan-rekan senior, begitu banyak kendala menikahi pria Pakistani. Mulai dari sidang CH, Clearence House, yang harus dilewati sang Pakistani sebelum mendapatkan visa masuk ke Indonesia. Lalu ketika sudah berhasil masuk dan bisa menikah di Indonesia dan diajak hijrah ke Pakistan, ternyata kenyataan disana tidaklah seindah bayangan semula. Hahaha…

Kalau sudah begini jadinya, saya patah hati sebelum sempat jatuh cinta namanya.