Trip to Jogja – Jilid Satu

Nah, perjalanan kali ini saya nggak ditemenin sama Nyi, karena Nyi harus kerja. Tapi sama temen kampus, nama disamarkan, sebut saja Juni. Sehari setelah UAS terakhir seharusnya saya masih merevisi paper mata kuliah Manajemen Keuangan Pemerintah, tapi setelah semalaman begadang dan inspirasi yang didapat cuma segitu-gitunya, ya sudahlah sent aja teros😀 Sudah tak sabar pingin jalan-jalan ke Jogja.

Paginya, sekitar jam sepuluh saya jemput si Juni di kosannya di Kalimongso untuk berangkat ke Stasiun Senen. Kami berangkat berdua naik motor. Pukul 12 siang, sesampainya di stasiun, kami langsung membagi tugas. Juni langsung masuk ke stasiun untuk mengeprint tiket sementara saya bertugas mencari parkiran motor. Malam sebelumnya saya sudah mencari informasi via internet mengenai lokasi parkir menginap di sekitar Stasiun Senen. Terdapat beberapa lokasi parkir yang dapat digunakan untuk menginap, di antaranya adalah di Masjid seberang stasiun dan di pinggir jalan raya di depan GOR. Namun tak disangka, di satu jam sebelum keberangkatan ini, ternyata kedua parkiran tersebut penuh dan sudah tidak mau menampung motor lagi. Ada beberapa orang juga yang bernasib sama seperti saya, padahal keretanya sudah hendak berangkat.

-lanjut baca->

Motoran ke Puncak

Dua hari sebelum pergi ke Kebun Raya Bogor, saya sama Nyi berencana ke Puncak. Naik pegasus merah tentunya. Karena tanggal 3 April pas hari Jumat tanggal merah kami bisa berangkat dari jam setengah sembilan pagi. Rencananya kami mau main ke Masjid At-Taawun. Karena si Nyi ini katro banget, nggak tahu Puncak apalagi Masjid At-Taawun :))

Ini pertama kalinya saya ke Puncak naik motor. Jarak dari Kampus STAN ke Masjid At-Taawun sekitar 70km. Seperti biasa jalanan di Parung macet dipenuhi angkot-angkot ngetem. Setelah lepas dari kemacetan, motor kami mulai masuk ke jalan Kemang yang sepi, maka makin menjadilah ngebutnya si Nyi. Dari terminal Baranangsiang kami mengarah ke Tajur. Jangan lupa ya teman-teman yang mau ke Puncak cari informasi jadwal buka tutup. Pas kami naik jalur satu arah naik, sementara jalur turun ditutup. Sebenernya nggak terlalu ngaruh ya buat motor, walaupun jalur turun ditutup, motor mah tetep jalan bae😀
-lanjut baca->

Perjalanan yang Pertama; Kebun Raya Bogor

Hari ini harus segera nulis, kalo masih ditunda sampe besok, bisa genap sembilan bulan absen curhat online, tinggal nunggu sepuluh hari lagi ‘netes’ dah :))

Setelah melewati dua semester paling horor, akhirnya mulai mengumpulkan keberanian buat cerita-cerita lagi disini. Meskipun baru balik delapan bulan ke Tangerang, Alhamdulillah sebagian besarnya dipake buat maen wara-wiri kesana kemari. Lupa kalo tujuan awal balik ke kampung buat tugas belajar :((

Awalnya, tujuan awal saya jalan-jalan adalah membabat wilayah Bogor. Menapaki setiap pelosoknya untuk mengintip sedikit keindahan kota tersebut. Naik Supra X merah saya tentunya.

Destinasi pertama saya tentunya adalah sebuah taman yang menjadi ikon kota Bogor. Apa itu? Coba tebak. Yaa, betul sekalii. Kebun Raya Bogor.

-lanjut baca->

Masalah Pola Tidur dan Suplemen

Semenjak menjalani diet, gue semakin peduli dengan masalah pola tidur. Menurut beberapa jurnal yang gue baca, kekurangan jam tidur akan membuat metabolisme tubuh kita lebih lambat sehingga energi yang masuk lewat makanan akan diubah menjadi lemak. Selain itu sering kali tengah malam tiba-tiba kepingin ngemil, entah keripik atau kacang. Setelah itu siap-siap deh menjalani hari-hari stres karena badan makin nggak enak dibawa gerak atau baju yang berasa kesempitan.

Semenjak kerja, mungkin karena badan gue mulai tua an nggak se-enerjik dulu, gue jadi gampang capek. Jam sepuluh pagi sudah berasa ngantuk. Akhirnya, pulang kuliah tidur siang deh, bisa sampe dua atau tiga jam. Naasnya, malemnya malah jadi nggak bisa tidur. Begadang. Bangun kesiangan. Solat subuh bablas. Nggak sempet olahraga. Kuliah nggak fresh, ngantuk. Tidur siang lagi deh.

Begitulah kehidupan seminggu pertama gue saat masuk kelas D-IV. Gue sadar ada yang salah dan harus segera gue rubah. Mulai dari ngerutinin olahraga lagi. Tapi badan lemes banget. Akhirnya ya terpaksa cari suplemen penambah tenaga biar nggak gampang capek. Gue pun balik mengonsumsi suplemen lama gue sewaktu diet dulu. Kandungannya utamanya kafein. Buatan ult*mate nutr*tion. Memang sih seharian badan nggak ada capeknya. Nggak ada cerita ngantuk di kelas. Bahkan gue sanggup nyelesain tiga ribu kali skipping tiap pagi sebelum sarapan.
-more->

Drama Kehidupan;

Kehidupan ini tidak pernah dijanjikan untuk dapat dijalani dengan mudah. Mohon maaf sebelumnya, beberapa bulan vakum menulis, tiba-tiba hadir dengan suasana sendu. Tiga bulan ini tercatat sebagai masa-masa terberat dalam sejarah perjalanan hidup saya. Lebay.

Setelah berjuang mengikuti ujian masuk program diploma IV STAN bulan Oktober lalu, ternyata saya ditakdirkan untuk lulus. Artinya, saya harus mengemas kembali barang-barang yang baru saja saya tata sebulan yang lalu setelah pindah dari Aceh Besar ke Rumah Dinas BPKP di Punge, Banda Aceh. Saya harus kembali ke Jakarta. Menjalani sisa takdir hidup di tanah kelahiran.

Dahulu saya berpikir bahwa kembali ke tanah kelahiran adalah momen yang paling saya tunggu semenjak pertama kali menjejakkan kaki di Bumi Rencong. Namun sekarang semua telah berubah. Kehidupan saya yang telah berubah. Bagaimana mungkin melupakan tanah yang di setiap sudutnya telah menumbuhkan semangat hidup dan harapan baru bagi saya? Perpisahan itu amat terasa berat dan menyakitkan. Mengetahui bahwa saya harus kembali berselisih jalan dengan orang-orang yang pernah berarti bagi hidup saya.

Kembali ke rumah, saya sadar bahwa ada tugas berat yang tuhan hendak titipkan di punggung saya. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Tapi saya tahu menangisi nasib sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

Sepulangnya saya dari Banda Aceh saya mengetahui bahwa adik saya tidak lagi bersekolah. Adik saya sejatinya adalah anak dari adik ayah saya. Ketika di kandungan, ibunya mengonsumsi obat-obatan penggugur kandungan. Namun tuhan menakdirkan ia untuk tetap lahir. Pengaruh obat-obatan yang dikonsumsi ibunya itu mengakibatkan ia lahir dengan gejala autisme. Orangtuanya tidak berkenan merawat bayi malang tersebut. Sehingga ia dirawat oleh orang tua saya. Dan jadilah saya si anak bungsu yang memiliki adik.

-read more->

Review: Suplemen Nutrafor White Beauty

Racun oh racun. Punya hobi mengikuti forum online kewanitaan memang agak sedikit berbahaya. Banyak racun bin virus menular yang mungkin saja menginfeksi dompet. Apalagi bagi seorang beginner dalam hal urus-mengurus diri seperti saya. Mungkin ini memang harga yang harus dibayar atas keserampangan saya merawat diri selama ini. Hiks hiks. Selama enam minggu ini saya rutin mengonsumsi Nutrafor sebagai suplemen makan. Di Kota Banda Aceh, NWB bisa diperoleh di jaringan apotik Kimia Farma. Tersedia dalam box isi 60 kaplet seharga Rp256.000,00 atau box isi 30 kaplet seharga Rp170.000,00. Tapi sayang, lebih sering box isi 60 nya kosong T_T. -read more->

Mar’ah Muslimah

Terima kasih untuk seorang kawan yang sudah tergelitik melihat terjadinya -jika tidak ingin dikatakan sebagai kemerosotan moral- kefuturan seorang muslimah sehingga membuatnya menegur dan menasihati muslimah tersebut untuk senantiasa berada di jalan kebenaran. Tulisan berikut ini semoga meneguhkan apa yang sebelumnya pernah runtuh, meluruskan apa yang sebelumnya sempat menyimpang dan menyucikan apa yang sebelumnya sempat ternoda.

Dikutip dari Majmu’ah Rasail Al-Imam Asy Syahid Hasan Al Banna

Islam melihat bahwa ikhtilath antara wanita dan laki-laki itu berbahaya. Islam memisahkan antara keduanya kecuali dengan cara menikah. Oleh karena itulah, maka masyarakat Islam adalah masyarakat tunggal bukan bersifat ganda.
-read more->

Back to Holahoop

Dua tahun lamanya berkecimpung dalam penjualan holahoop rotan online. Cieeh. Akhirnya saya memulai kembali berlatih menggunakan rotan bundar tersebut. Berawal dari kegelisahan karena fitness center dekat rumah yang tak kunjung buka pascalebaran serta ketidakmungkinan untuk melakukan lompat tali di dalam kamar. Tipe rumah kami memang RSSSSSSSS (RS8) alias Rumah Sangat Sempit Sekali Sampai-Sampai Selonjoran Saja Susah. Hehehe. Akhirnya saya meminjam satu holahoop jualan untuk melakukan cardio.

-read more->

Bibit dan Rantai yang Terputus

Laisal fata man yaqulu kana abi,
walakinal fata man yaqulu ha ana dza
Bukanlah pemuda yang berkata, “Ini Bapakku”
Tapi pemuda ialah yang mengatakan, “Inilah aku !” -Ali RA

Adakalanya aku cemburu. Iri. Ketika melihat anak-anak yang bahkan semenjak di dalam rahim sudah mendapatkan tarbiyah dari kedua orang tuanya. Adakalanya aku cemburu. Merasa ditidakadili. Ketika melihat anak-anak yang bahkan semenjak di dalam rahim telah direncanakan pendidikannya dengan ditopang perekonomian keluarga yang mapan.
Mungkin harus seperti Salman Al Farisi, terseok mencari kebenaran seorang diri hingga Islam memenangkan hatinya. Bukan seperti Ali yang semenjak kecil tumbuh bersama madrasah kenabian.
Ahad pagi di awal tahun 2009, aku cemburu. Menyaksikan sekumpulan anak tengah bermuraja’ah di Masjid Al Hikmah, Jalan Bangka V, Mampang Perapatan. Bahagianya mereka, cahaya Islam telah masuk ke dalam rumah tangga orang tuanya. Dididik dengan baik dan layak di sekolah berlabel Islam Terpadu dengan harga yang lumayan menguras kantong dibanding sekolah umum biasa.
-more->

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.